Tampilkan postingan dengan label PUISI-PUISI CINTA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI-PUISI CINTA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Oktober 2010

AYODYA (DRAMA KASTA PHIA DECCA 2)

Puan kau curi rasa pada harap gendam loka...

lunglai raga pejam wajahmu menyinai, menyibak selimut hati rapat menjejat kala itu....

namun waktu hanya sementara...

kutunggui kau diujung sana dengan secarik kertas bertuliskan cinta, yang kau ramu pelan meski singkat kata....

ah,,,, Narsiz.....
khayalku melampau jauh akanmu....

sedang kau merujuk diatas sana bergmulai tawa...

tak mungkinkah kau tau anginku membawamu kesana,,,,
tak mungkin pula singkat waktu serta mencumbu senyum kecilmu....

ah khayalku Ayodya.... kau pikul tak jauh sebrang neraka......
mengilhamkan sejuta tanyaku akan seremah roti yang ikhlas ku beli tapi ringan kau berikan pada ikan2 lautan.....

adakah tak kau sadari ku mencintamu karena hatimu???
yang kau suguhi dengan tinta hitam bermakna kelam....

selepas lalu kaupun menjauhku tinggalkan angan genggam tanganmu dan ku lepas di sesudut Ayodya....
mimpi.....

Senin, 13 September 2010

DRAMA KASTA DECCA PHIA

Phia
Berburu sejatimu, aku terlibat sepi, Bersaksi teliti, cukup kusiksa diri
Jadi bagaimanakah caraku kukenali engkau?de javukah? Gelap kuyup
Kita dulu belum menapak baligh, Kau belum mimpi didekap bidadari
Cinta jahar, bola dan boneka
Lalu aku buta, menggembala di ladangku yang hilang domba
Tak kasat mata pula engkau, terbang di labirin-labirin hati empunya siapa
Hari-hari lolos, Wangi patah hati menguntitku jadi mata air yang meggerimis di kebun kenangan
Masih aku mimpi menangkap makam
Dan kita pulang, Kuharap domba-dombaku yang hilang jadi puisi dimatamu

Decca
Padahal setahun lalu, ladang gerimis terjejak kaki saudara tua
Melantun habis galau lalu secangkir rindu, Pada talu pada ragu dan pada sejatimu
Ingatkah selepas lalu, kau pulang meninggalkan sekawanan kerontang yang kau kenangi kaki-kakinya?
Mereka menghalau air mata dibawah mimpi reresah kaca, Sekelebatpun sejatinya raib dari jabat, diantara gelap, kuyup dan jejat domba tua yang kau rajut jadi puisimu
Tiga menit lalu, Kau, aku, tinggalkan kota,
Tinggalkan sejatinya puisi-puisi, yang kutunggu jadi rajutan tinta di bukumu

Phia
Jadi apa hendakmu sejatinya?
Sumpahi aku agar meracau tentang makna yang enggan ditafsir rasakah?
Rerayumu bak parade sembilu, hijabnya tak tertahankan
Bisikan kekasih lama meruat resah buat cintaku padamu
Lantakkan senyum, bilur terpajan di isakan
Jemariku beku, rimaku layu jika tak kudamparkan padamu azimat retakku
Maka dimanakah berlabuhnya sayatan dekapku Yang sempat kau janjikan akan meratu di tiap saujanamu?

Decca
Kenapa harus kau taburkan padaku, sayat balur azimatmu dengan detaknya sepilar semu…? Sedang kilah melagu dengu pada hijab
Setahun lalu sengaja kau samarkan pada temaram beku jejemarimu
Aduh, aku tak mau melantun cintamu… Sejatiku khilaf saujanamu

Phia
Rindu merambat pada jejari, Lara menggumpal, terseok, merunut sepanjang sepi yang dibordir pada sejengkal kerlingmu nakal.
Aku aus dibantai rindu, Kerontang dikrikiti rengkuhmu, mengepompong di raham setengah matang
Sampai malam lalu terjaga, meramu lara di dermaga tak bertuan
Lubang semakin menganga semakin gersang dikebiri teluhmu dari kejauhan

Decca
Lara terpantik menyembelih katamu, mencoba cekal ketam memapar sauh ditengah dermagamu, deru…
Niatan melapuh gersang terpekik kau kafani serojaku
Dihampar seberang, laun kau nikmati matiku

Phia
Dan kau inginkan jawabkukah?
Ia yang bak pulau tak berhabitat meringkuk sendiri kehilangan Tanya,
Memejannya dalam lempeng kepercayaan masa silam
Susuri waktu, yang enggan berlari enggan jemu
Kisruh bilik hati seolah merugi, dendam sendiri dituai juntai rasa di ceruk nurani
Semai benci yang semakin lama semakin menyanjungi
Sepertinya dia telah pergi tapi entah kemana
Hanya kuingat dia memberiku pesan, tunggu aku 1000 tahun lagi

Decca
Saujana tak rela mendua sejoli
Merebak aroma jejat sesah sejuta hasrat
Ah, canda nian kau di tepi renjana, saujana…. Saujana….
Senyummu manis menipu daya

Phia
Senyumku tak berujung pada bayu
Tiada tafsir dapat merujuknya dan mendung semakin sanjung matahari
Lautan berontak, tapi tetap ia air belaka, mana kuat ia meracuni wana di hatiku?

Decca
Tiga laksa sesoca, Meskipun hanya tetes air yang memendar jingga
Gacuh katanya membisik, meronta sembilu yang kian lapuk…
Menyela hatinya yang tampuk di dua biduk
Ah…Rimbanya masih menyana,
Kemana surya masihlah surya, Kemana bayu masihlah bayu
Sedang kau sendiri disana, meracun hati, menampik sejuk sejuta gayatri

Phia
Bayu selamanya merongrongku!!!

Decca
Tak!! Baiknya kau mafhumkan aku, terjerat dalam remuk redam rasaku

Phia
Tapi aku menyapa dari kedalaman halimun
Gerimis sesiangan dan awan kelabu yang 24 jam memberesi hari dengan keluhan cucian yang enggan berkarat
Aku datang memberi gerimis pada kiamat tanpa ayat, membantai sepi sepi lantun saujanamu
Entah batu Entah kerikil Entah apa, tapi sepertinya dia ciptaNya yang sanggup kuajak bersandiwara
Dinding rapuh tanpa rasa, tangis terbahak, tawa terisak Jadi pelampung yang akan selamatkan kau dari hiasan peta waktu yang pernah kau gambar di kenang neurosamu
Hening gapai jarakku denganmu, kurenangi tapi sepertinya sungsummu beku kuajak menatap bulan
Sauhku harap berlabuh memulas serpih berlianmu yang robek siulnya tapi bak genderang kosong kau kawinkan sunyi dengan sepi saja
Sudah hilang caramu mencincang banal di kerling kejora
Mungkin aku yang harus terjaga menghadirkan halilintar di setiap tirai sepanjang cakrawalamu agar terkatup sudah bingkisan kematian rasa yang kau ceburkan ke kolamku

Decca
Bak pualam kau menyandiwara memgatas namakan kematian yang kubingkis indah di sesal renjana
Mencoba melupa rangkahku, melebur tawa di atas kejora
Sedang saat itu kau saput awan kelam yang melintas di atas dahiku
Duh, lagi kau haturkan kealpaan di jantung kenestapaan kita, mencoba menyandiwaraNya di atas laksa yang terjaga

Phia
Percakapan kau dan aku serasa melelehkan aura
Remahlah aku mendulang kata pada sebuah ketakutan aku beralih pandang
Menyisir waktu dimana kerinduan meronda jarak
Kerapkali hati mengunci redam rasa yang ditawarkan senyap jiwa
Dan ketika surya datang tumpah segala remuk redam, embun terusir
Lalu pada siapa aku lantakkan resah? sedang sebukit cinta belum mampu rinai di lembah jingga

Decca
Benarkah sembilu ragu kembali menyemayam tantri?
Tersibak rerayu sebukit cintamu yang hendak merinai
Tak terusik gontai, namun nanar memburu, jiwa membeku, ranummu melagu
Kau tak sadar lembayung telah menanti setetes embun telah membasah dedaunan
Antara rinai dan sinarnya kan naik perlahan

Phia
Seperti paham, ombak berkata tentang kerinduan tentang sebuah rasa pada lautan
Ketika kau tak lagi sadari, Kau buat lukisan hatiku di pasir hilang bentuk kala gelombang menebah
Dan kau asyik senyum simpul pada kepiting mungil yang cubit telapakmu

Decca
Puan, kau curi rasa pada harap gendam loka
Lunglai raga pejam wajahmu menyinai menyibak selimut hati rapat menjejat kala itu
Namun waktu hanya sementara kutunggui kau di ujung sana

Phia
Apa sedang kau ungkap munafikmu? Bukankah telah kau nyatakan mentah-mentah kalau semua rasa rindu dendam saujanamu tak merujuk padaku?
Kau membuatku terhenti di langkah setengah hariku, terpacak diam
Dan memunguti serpih ingatan tentangmu yang tak rela aku remuk redamkan saat kukatakan, selamat tinggal
Lalu aku harus apa? Menambal sulam ia kah, hingga utuh lagi di sela neuronku
Atau menyimpannya di dasar cerebrum dan satu saat nanti merubahnya jadi cemeti agar kau lebih leluasa mempertemukan aku dengan kalahku
Atau kacaukan saja arah angin!
Tapi bagaimana bisa jika serpihmu adalah kaca yang didalamnya kutemukan diriku

Decca
Kelontang ranah berpijak, mendua gontai menukik luruh
Merajam hati, menggoda sepi yang membungkus serbuk syaraf sepatu
Kalbuku tinggal seperdelapan, penuhnya menguap dihasut silat berdua
Hujat katanya cendikia, tampar ceritanya bijaksana
Aih, kelontang itu semua, Kau jejatpun aku tak percaya


Phia
Dari titik itu kau selalu memandang hingga ku terpekur di lantai salah resah
Padahal disana matahari masih berputar, Daun-daun hijau
Tapi manusia semakin rabun mengeja isi hati durga
Tak cukup menemanimu menujuku
Meski berabad lamanya, Jarakku dan kau, titik itu kejam
Buta warna, dusta, iri
Atau sebaiknya kau buta saja?

Decca
Serpih seroja papar mendesir
Buih lautan kau serui perlahan memijak lara rasa sembilu teratap
Bisanya pelan kau toreh lewat bisikmu sayat melejit tinggalkan kotaku
Hampa, tak cukup…..

Phia
Rindu menggubah mimpi, lara menyadur janji
Penant terkubur di surya sela siangmerajuk
Barangkali tak cukup sejuta duri murni
Lelap tak terjamah di mata hati
Tanya saja pada ilalang, sampai dimana petualangan ini akan berlabuh di satu titik beku nan jadikan darahmu berhenti aliri raga

Decca
Apa daya kini langkahku telah jauh meninggalkan diri dalam kota yang tak pernah mimpi menghirup secuil hidup hingar pekik tanpa kata
Mendusta cinta wahai kau saujana
Tipu hati laksa sesoca, Tipu raga dendam senada
Ah.. Memang mendusta cinta kau saujana
Mentari di ufuk lama menyana

Phia
Kenapa kau mulai lagi? Sedang renjana enggan berdamai dengan kelana
Lalu kenapa tak beranjak pulang saja, atau jangan-jangan kau pikir ceritamu seyojana tatap dewa?
Gelarkan malu pada nurani, Unduh remah-remah pedih di tandu kelakar

Decca
Pergi saja kau saujana, Pohon-pohon telah redup dan berbunga di tepi jalan yang tak lagi berdebu
Lembayung senja dikerubungi lengkungnya mendung, separuh merah separuh ungu separuh lagi kelabu
Kemarau mendingin, anginpun hening, di jalanan selatan rupanya dirimu
Seolah menutup mata dan pucat menjadikan dinginku kini malam yang menggigit
Serta hujan ini terasa sangat kering
Tak kudengar lagi suara lantang seru seru namaku
Tak kulihat lagi senyummu bertebar dalam fajar
Yang seringkali manis menatap wajahku
Disanalah kau. bersandar
Di rongga-rongganya kudengar suaramu senyummu biru

Phia
Jadi ingat siang itu kau katakana ingin kembali menjemput kata-kata
Kidung ini mungkin suatu karma mentah penciptaan masa lalu yang terulang tapi berbalik arah tetirah
Biarlah dusta merajah rindukan pelipur lara
Jeram hati mendosa
Usah berpatah
Kita sudah kalah


Decca
Adalah paras dalam kepekatan malam seribu dihiasi manis hatimu
Ketika di rumah desa di saat bertemu sejuta basah menerangi kalbu
Adalah hati dalam semangkuk cahaya bernafaskan cinta jingga yang tak dapat kuungkap
Hingga kelukan lidah tak berkojah sebab sejuta kelabu menyelimuti hati dan jiwa
Tatkala terbit fajar sepanjang jalan lintas jalur, tak dapat melupa kelabu birumu
Cinta pertamaku

Phia
Keramat berpulang membawa manisan ditabur tanpa nyawa
Untai suci, tapi hati tak lagi berbagi dengan sukma
Galur merebak di jeram-jeram alur cerita hilang ditengah klimaks yang tak mengesankan
Ungu penaku merasuki imaginasi
Rahasia kalbu terbujur di kertas putih berabjad tertata makna
Ajaibnya kata-kata tetap tak membuatmu terjamah

Decca Phia
19 VS 26

Decca
Duniaku biru

Phia
Duniaku ungu

Decca Phia
Blue VS true

Senin, 16 Agustus 2010

puisi pardesi

APA MENCINTAI?
Mencintai adalah misi membunuh ego
Pemaksaan dua subyek dalam satu definisi buta
Filosofis
Pistis
Narsitis
Altruis
Sadis
Romantis
Mistis
Tragis



INTUISI
Aku sedang naik daun
Merayu salju jingga yang bertengger di setangkup jati diri
Lagu jenaka meranum di sepanjang pipi
Saujana di umpanmu berlabuh
Mendongak langit
Mimosa dan pelangi
Androgen
Amnesia
Kepala menjamur
Lautan kuning
Momentum
Sisa
Babad
Langkah
Maju
Tatap
KEMANA

Memuat sebuket mawar
Yang selama ini menyimpan wanginya dalam rempah transparan
Altar ternyata mengembang
Aku ingin hilang saingi trotoar
Nyata aku paranoia pada konyugasi berdarah
Relief melembek di ketiak menit
Lalu timbul misteri,
Awan berbentuk kura-kura bercinta
Timbul tenggelam diantara matahari yang berhasrat pulang
Simbiosis aku dan kau di pelabuhan jingga
Melayari gelombang pasang meradang



TERPERLIP OLEHMUKAH?

Memilihmu untuk memuaskan seloka,
Aku selirat, kosong transmisi, Imaginasi, Inspirasi
Sembelit otakku menyeranta fakta
Kau menggoda di setiap jengkal cerebrum, Serbu takjubku
Saujana menggugut uran-uran di raham renjana
Kosong menyapa di ubun-ubun
Menggurun malam-malam, menghutan siang-siang, melaut pagi-pagi
Tetap melompong
Simalakama menyapa, Kau sejati atau serupa?
Pejal hati hasrat merindu, pelesir di permukaanmu, hampa
Tenggara aku terperlip olehmukah?
(Buat Curlyquwh)
GONDANG PAGI ITU

Pernahkah kau berbenak membawaku bercengkarama di rerindangan?
Kata orang, kelapa gaib itu santapan ratu dari kahyangan, tak satupun ksatria bebas merasai
“Aku ksatria!”
Lagu lama, kau yang bergender mojo
Ah, kenapa kau malah memayu raharjaning trisna?
“Sudikah kau menikahiku di bulan desember? Kalau bisa tanpa maskawin.
Di muara malam aku selalu bediding, aku butuh diriku diblender.”
Waduk sedang dangkal
Setan-setan mangkal
Di lading-ladang resah, di buritan perahu angsa
Setujui positif dan negative beradu dalam basah


HIPOTESIS

Jika ada kau maka ada aku
Karenanya pandangi aku
Jika kau pecinta maka aku tercinta
Meski cermin kita retak diserbu kasta
Jadi sentuh aku bila berharga
Aku dengar-aku tak mau dengar
Aku lihat-aku tak mau lihat
Andai dapat kulelehkan angkuhmu


AKU, NISAN DAN KUNANG-KUNANG

Kubelai nisanku di tengah malam
Kunang-kunang memandangku lalang
“Kenapa kau disitu?”
Aku resah terdiam

Kubelai nisanku tengah malam
Masih kunang-kunang memandangku nyalang
“Aku ingin hidup lagi mengambil titipan cintaku yang tergadai. Aku karenany tertawan.”

Kubelai nisanku tengah malam
Kunang-kunang tersenyum jalang
“Akan kubantu kau menebusnya,”

Aku dan kunang-kunang berdansa tengah malam
Nisanku jengah, enggan melepasku tak bermakam



SURAT MERAH

Irama peperlipan yang mendosa
Dua dimensi tersekat membrane berbisa
Terbit hasrat pergi
Bersyarat tak kembali
DRAMA RAMAYANA DI TANJUNG KODOK

Jangan tolak temani air asin angina
Di gazebo retak setiang
Peminat logam cetak rumah gadang
Jadi santapan terlegit sebelum kiamat
Meski tak sebanding nafas tuak di seputaran Ndrajat
Sedari dulu, batu itu sudah begitu sejak kau belum memayapada
Bukan terpesona pada peranmu Sri Rama
Persembahkan kebijakan dalam nampan
Gendewa pelafalan yang tak mempan
Kecuali kau berminat jadi Malin Kundang
Kuburkan birahi pada kodok gedindang
Pada lelakonan tepi laut kudutakan cemburu kalut
Semoga tak batal dan murung bila mampir si maut
“benarlah Laksmana memarlojongkan Shinta, mencicipinya pula.”
Kiranya Sri Rama tawarkan cara mati baru,
Bukan perapian, tapi pada
Bakau-bakau
Ombak-ombak
Perahu-perahu
Dan lautpun surut
Tanjung Kodok pun masyuk
Di kastil pasir kosmosnya Shinta tergolek setomat
Digerogoti kera putih tak bercawat
“Cut!
Bukan ini yang diminta sutradara!”

(diklat teater, 2003)
ZOOM
Ternyata kau masih mengenaliku
Lewat sepotong kata
Short message service! 27 maret 2005!
Malam turun sejak tadi,
Sepertinya di rembulan kulihat dwi biji matamu berisyarat
Tahukah kau?
Kubah langit mengkanvasi lukisan jemari yang berdebar
Ganal aku menyuaimu di geladeri bawah sadar
Pagina hariku, 26 lebih 74
Siapa potianya?
Sejengkal khuluk, atau penggarit lazuardi belaka?
(Buat Curlyquwh)



PSIKOPAT AKU

Ibuku dipasung setelah melahirkanku, kupikir dia gila
Andaikan dia dulu tidak melahirkanku, pasti dia tidak gila
Lalu orang-orang ikut menamaiku gila
Diantara siang dan malam, aku berdiri diantara matahari dan bulan
Di jalan seorang pengemis menangis, katanya seminggu tak makan
Melihatku ia tertawa, ketika kuganti lambungnya dengan lambungku
Orang bilang percaya itu sebagian kebenaran
Jika aku berperan di teater orang mati
Dengan Roqib Atid sebagai sutradara, apakah itu kebenaran?
Bila yang lain mengklaim kebenaran itu harus masuk akal
FREAKY FREAKY THAT’S ME

Come and go as wild as crow
Lie and truth, I want you to grow
Angel and evil wannabe my fellow
Smile and scowl, I need you to show
F**k and shit will you show?
Sometime anywhere, can you shadow
Somewhere anytime like snow
Freaky freaky that’s me
Dude, would you mind to cherish me glow?


WANNABE LOST

Sorry ma chere amie. Wannabe lost, passed by
Nothing but insatiable, just like the blue sky
Too easy to make up mind
Gone….. come ….. like the wind
Even words can’t save me from the ego
Stay still!! But please let me go
So bye bye bye
That’s what I want to say
(For then you make me wannabe close to you more,
Just like the silver key and the door)


SWEET BROKEN HEART

If the sun keeps in touch with the rain blow
Want you die with the rainbow
Neither sad or happy to let you free
Cos you are hoi polloi but I am hoity toity

Welcome Back to Neverland!!!

Haiaaaaaaaaaaaaaaa................ setelah sekian lama mati, bener-bener mati gaya! blog ini pertama kali Agustus 2010 dan sekarang adalah f...