Tampilkan postingan dengan label CERPEN & DONGENG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN & DONGENG. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Oktober 2010

perempuan yang suka mandi

cerpen ini belum kelar, masih belum punya waktu untuk meneruskannya. Ide belum muncul, waktu juga masih belum bersahabat. jadi... diupload dulu, siapa tahu ada yang mampir dan pengen menruskan,hehehhehe.....

 


Tak ada. Laki-laki itu meraba-raba lagi tempat disisinya, tempat dimana istrinya berada, tapi tempat itu kosong, tak ada istrinya. Padahal baru beberapa saat yang lalu mereka usai berlayar ke pulau jingga, dan ia menunggu perempuan terkasihnya itu terlelap lagi dalam pelukannya. Ia bukan lelaki egois yang langsung pulas lagi begitu terselesaikan hasratnya. Tapi sepertinya kali ini ia tertidur. Ia lelah, tugas kantor membuatnya tidak bias konsentrasi pada tugas yang satu ini.
Tapi kemana istrinya? Ia membuka mata. Kamar terang benderang. Ia benci kamar benderang, tapi sejak ia tahu perempuan itu tak suka tidur dalam kegelapan, ia mengalah. Sekarang mereka selalu tidur dalam terang, bercinta dalam benderang, sehingga bisa mereka saksikan masing masing wajah ketika saling mengerang. Istrinya bagai bulan,  mereka baru menikah tiga bulan.
Tapi perempuan itu tak ada. Samar ia dengar gemericik air di kamar mandi. Spontan ia melihat jam dinding, jam dua dinihari. Jangan-jangan dia mandi?
“Kaila sayang?”
Tak ada jawaban, mungkin ia tidak mendengarnya.
“Kaila?” masih sunyi. Tiba-tiba ia berpikir bahwa ia sudah mengecewakan istrinya malam ini, hingga istrinya hanya pura-pura tidur tadi, lalu ketika dia sudah lelap, maka istrinya diam-diam menyelinap ke kamar mandi, diam-diam bermasturbasi, akh…
“Kaila!”
“Ya mas.” Dia lega. Pintu terbuka. Istrinya bagai bulan, mereka baru menikah 3 bulan. Rambutnya basah sepinggang, baunya lavender, sepertinya baru saja luluran.
“Kamu mandi.”
“Ya Mas.”
“Masih jam berapa ini? Kalau aku mau lagi?”
“Ya silahkan,” perempuan itu tertunduk malu. Tapi ia sedang tak mau lagi. Ia ada pr dari kantor, mempersiapkan presentasi buat besok pagi.
“Tidak. Kamu tidur lagi saja. Aku mau ngetik sebentar.” Ia menuju meja, menyalakan laptopnya. 10 menit kemudian  sunyi sepi. Hanya bunyi jemarinya beradu keyboard yang terdengar, dan detak jam dinding. Ia menoleh ke istrinya yang sedang tidur. Istrinya bagai bulan, mereka baru menikah 3 bulan.
Ia bangkit. Menuju istrinya. Memandangi wajah ayunya. Ia bangga memiliki perempuan itu.
Ketika orang tuanya mengatakan hendak menjodohkannya, ia menolak mentah-mentah.
“Aku belum mau menikah. Dan kalau aku menikah, aku mau mencari perempuan yang benar-benar mencintaiku dan aku mencintainya. Bukan dari perjodohan.”
 Ia masih 27 tahun. Target menikahnya 30 tahun. tapi ia tak menolak untuk hadir dalam acara pertemuan dua keluarga, keluarganya dan keluarga Maharani. Ia langsung jatuh cinta pada Maharani. Sebulan kemudian mereka menikah.
Maharani bagai bulan, mereka baru menikah 3 bulan.
“Mas kenapa?” ia kaget, mata istrinta mendadak terbuka dan menggeragap dia terpergok sedang memperhatikannya.
“Aku mencintaimu.”
“Saya juga mencintai Mas.”
“Aku ingin memelukmu.”
“Peluklah Mas. Itu hakmu”
Mereka berpelukan, sampai terasa hangat menyentuhnya. Matahari menerobos masuk lewat kisi jendela. Ia tak lagi mendapati istrinya. Ia tak perduli, ia hanya melihat jam, setengah tujuh.
“Telat lagi mas?” sapa Hardi yang menempati kubikel sebelah begitu ia menyalakan PC. Ia hanya tersenyum. Hardi pegawai baru, menggantikan Sukmo yang diduga menggelapkan uang pabrik sehingga dipecat tanpa pesangon beberapa minggu lalu. Pemuda berambut kelimis itu menempati kursi sebelahnya. “Saya mau minta copian data kemarin.”
Computer mereka belum terkoneksi, jadi harus ribet kalau tukar menukar data.
 “Ya nih. Tidur nya kemalaman, bangun-bangun sudah siang.”
“Ah. Mas, katanya masih pengantin baru yah.” Hardi mengolok-olok. Awalnya dia menganggap anak baru itu pendiam, tapi ternyata enak juga diajak bicara. Umurnya baru 27 tahun.
“Pengantin kawak Har, sudah tiga bulan.” Mereka tertawa berdua. Ia segera mengkopikan beberapa file ke flash disc Hardi.
“Ah, ya belum. Wong belum punya laba! Sudah ada tanda-tanda atau belum Mas?”
“Belum. Jangan dulu deh, belum siap aku! Kamu sendiri bagaimana? Sudah punya pacar belum?”
“Belum Mas.”
“Aku ada saudara perempuan, yah, tidak cantik-cantik amat tapi…”
“Ah, saya niru Mas Dava saja, belum siap. Kerja saja baru beberapa hari.”
“Kalau begitu kapan-kapan ikut aku, kita cari yang tidak usah menuntut kata siap, grak!”
“Maksudnya Mas.”
Oalah, Hardi yang begitu polos. Tapi kata-kata Hardi mengusiknya ketika pulang kantor.
Hujan turun sepanjang jalan. Mobilnya merayap dalam tampias air yang menggelapkan pandangan.
Tanda-tanda, rasanya memang belum ada. Istriku belum meminta yang aneh-aneh. Sudah tiga bulan, harusnya jika aku subur, maka sudah ada tanda-tanda, atau jangan-jangan dia yang tidak subur. Apa aku salah pilih tempat menanam benih?
Tapi mas Joko dan Mbak Nia juga baru 3 tahun baru dapat momongan. Tapi Cuma mereka yang lama menunggu, keluargaku yang lain baru sebulan saja istrinya sudah muntah-muntah.
Ia berpikir lagi. Tapi memang istrinya tidak bersikap aneh. Ia memang baru mengenal istrinya sebulan setelah pernikahan, tapi rasanya sudah cukup untuk membuatnya jatuh cinta padanya.
Istrinya bagai bulan, mereka baru menikah 3 bulan.
Ah, mungkin memang belum waktunya.
Lagian aku juga belum siap.
Siap sih siap, tapi ternyata belum ada juga.
Jangan-jangan aku mandul? Tidak.
Apa dia yang mandul? Semoga tidak.
Akan kutunggu beberapa bulan lagi, jika tidak ada tanda-tanda, aku akan mengajaknya ke dokter, tapi aku tak mau diperiksa. Aku tak bisa menerima kenyataan bahwa aku tak bisa.
Entahlah.
Hujan tinggal gerimis satu-satu, ketika ia sampai di rumah dan pintu tertutup rapat. Sempat ia melirik arlojinya, jarum pendeknya menunjuk angka 4. Rumah sepi, tapi ia tahu,  istrinya  pasti di rumah.
Ia memencet bel pintu. Sekali, dua kali lalu berhenti. Ia menunggu. Semenit, dua menit, pintu itu masih tertutup. Mungkin istrinya masih sibuk, ia menunggu saja. Sambil membayangkan wajah istrinya.
Dia seorang guru TK, sederhana. Rambutnya sepinggang, harum hitam, terurai lepas jika sedang di rumah, tapi terhijab dalam jilbab jika bekerja. Bulu matanya lentik, dan sebuah lesung pipit menghias pipi kirinya, cantik. Sepulang mengajar, ia tak aneh-aneh, semacam shopping di mall, beli baju atau kosmetik. Ia lebih suka di rumah, akrab dengan jarum dan benang kruistik. Selebihnya ia menikmati fungsinya.
Ia memencet lagi, sekali saja, lalu menunggu lagi. Mungkin istrinya sedang mandi atau gosok gigi karena tahu ia sudah datang dan ingin menyambutnya dengan tubuh wangi. Semenit, dua menit. Pintu belum terbuka juga. Gerimis mulai hilang, angin menyapa tubuhya, dingin. Ia ingin segera masuk dan mendapatkan wangi yang menanti di dalam sana. Tapi kenapa pintu belum terbuka juga.
Ia memencet lagi, sekali. Pintu diam.  Jangan-jangan istrinya sedang masturbasi, terlalu asyik hingga tak sadar bel pintu berbunyi berkali-kali.
Ia memencet lagi, sekali, dua kali, tiga kali, jelas dengan kesal hati. Ia mulai berpikir di dalam sedang ada konspirasi. Istrinya sedang bersama seorang lelaki, mereka sedang saling merasai, laki-laki itu membelai rambut istrinya yang kusut masai, istrinya tersenyum pada laki-laki yang baru saja mengajaknya melewati birahi.
Amarah mulai mengipasi api dalam sekam, ia memencet berulang-ulang!
 Laki-laki itu lari dari pintu belakang dan istrinya buru-buru memakai pakaian dalam!  Laki-laki itu balik lagi, celana dalamnya ketinggalan!  Istrinya sibuk merapikan rambutnya yang berantakan!
“Mas?”
Wajah bagai bulan muncul dipintu. Ia bernafas lega, tak ada yang hal yang perlu dipertanyakan ketidakberesannya.
“Kok sudah pulang? Biasanya….”
“Ah.. aku kangen kamu.” Buru-buru ia menyeret istrinya ke kamar. Dingin dari tadi membuatnya beku, harus segera dicairkan.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
Semula ia tidak terlalu memperhatikannya, tapi lama-lama ia merasa ada yang aneh. Perempuan itu jadi suka mandi.
Bangun pagi, ia terbangun sendiri, tak ada perempuan itu disisi. Lalu pintu terbuka, dan ia masuk dengan tubuh wangi. Ia tersenyum,
“Mas, tidak bangun? Sudah kusiapkan air hangat buat mandi.”
Ia mandi, sholat subuh, lalu kehilangan perempuan itu.
“Aku di kamar mandi mas, mandi.”
Mandi? Bukannya tadi sudah?
Habis mandi perempuan itu menyiapkan sarapannya, tapi ia sarapan sendiri. Ia kehilangan perempuan itu lagi.
“Aku sedang mandi mas.”
Mandi lagi??
Ia bersiap, si perempuan mengantarnya dengan sebuah kecupan. Ia sudah mandi tiga kali pagi ini. Wangi.
Pulang kantor, ia kembali mendapati pintu selalu tertutup. Ia mengetuk dan menunggu. Yang selalu keluar adalah wajah segar perempuan itu, usai mandi.
Selalu mandi!
Ia menonton televisi, perempuan itu mandi. Ia mengetik laporan, perempuan itu mandi.Ia membaca Koran sore, perempuan itu mandi. Usai makan malam, perempuan itu mandi. Hendak tidur, ia mandi lagi. Dan bangun tidur, rutinitas itu kembali terjadi.
Perempuan itu, suka mandi.
“Jangan-jangan dia ngidam mas.” Kata Hardi ketika ia akhirnya kebingungan dan cerita pada Hardi.
“Hah, masa ngidam mandi?”
“Lah orang ngidam kan biasanya aneh-aneh Mas. Ada yang minta es krim malam-malam, minta dicurikan mangga tetangga, pengen ketemu Rhoma Irama trus ngejitak kepalanya…”
“Tapi masa mandi?”
“Bisa jadi Mas. Apa Mbak Kayla tidak bilang sesuatu?”
“Maksudmu, bahwa dia telat?”
“Begitulah.”
Ia mengingat-ingat. Tapi sepertinya Kayla belum pernah bicara. Atau jangan-jangan perempuan itu sengaja menyembunyikannya, mungkin besok atau lusa ia akan baru bilang,
“Kau akan jadi seorang ayah.”
Kata orang jangan terlalu berharap jika Cuma telat satu atau dua hari saja. Bisa jadi menstruasi mundur karena hal lain, stress, capek, atau pengaruh hormon. Kayla cukup paham tentang itu. Jadi mungkin ia tidak mengatakannya dulu karena belum pasti.
Tapi ia tak pernah melihat Kayla bersemangat membeli test pack. Tak pernah melihat Kayla buru-buru bangun pagi dan mengurung diri di kamar mandi. Kecuali ia selalu mandi! Mandi selalu!
“Kenapa kau selalu mandi?”
Ia tak tahan lagi, malam itu ketika hendak tidur, ia menunggu perempuan itu berbaring disisinya, tentu saja ia usai mandi.
“Aku hanya ingin bersih buatmu.”
“Tapi bukan berarti harus selalu mandi kan?”
Perempuan  menatapnya tajam, tapi lalu menunduk malu ketika ia menjamah dagunya. Seminggu ini ia payah karena kerja kantor, malam ini ia menginginkan perempuan itu. Ia beringsut berniat lebih banyak memberi sentuhan ketika tiba-tiba perempuan itu menghindar.
“Jangan!”
“Kenapa.”
“Jangan, tidak malam ini dan selanjutnya. Tidak boleh.” Perempuan itu membelakanginya.
“Tapi kenapa Kayla. Kau sakit?”
Perempuan itu berbalik. Matanya berkaca-kaca.
“Jangan melakukannya di tri semester pertama, itu pesan dokter.”
“Kamu hamil?”
Perempuan itu mengangguk. Lalu menyuruk dalam rengkuhannya, memeluknya dengan isak.
“Aku.. aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya padamu. Aku bingung.”
Ia tersenyum. Terkadang perempuan sulit dimengerti.
Kakak perempuannya memberi tahu suaminya kalau hamil sambil menari gembira dan memperlihatkan hasil test pack positif.
Sepupunya mengajak makan malam suaminya dan menyuruh pramusaji memberikan amplop hasil pemeriksaan kehamilan dari dokter.
Teman kantornya memberi tahu suaminya lewat telepon saja.
Istrinya, suka mandi dan menolak dijamah.
“Jadi itu kenapa kau suka mandi? Kau ngidam mandi?”
“Mas percaya soal ngidam?” mereka bersitatap.
“Percaya saja. Kalau memang kau ingin selalu mandi, ya mandi saja. Biar anakku tidak ngiler nantinya.” Ia meraba perut perempuan itu. Masih datar. Tentu saja, baru hamil. Mungkin tiga bulan lagi ia baru bisa melihat perubahan itu.
“Nah, selamat ya Mas.”
Hardi orang pertama yang ia beritahu kabar gembiranya.

 selanjutnya..... tunggu dulu yah.... tak makan dulu, sudah lapar...

Rabu, 15 September 2010

KACAMATA CLEOPATRA

Kupoleskan lip ice colour kissing orange sebagai finishing touch, mentholatumnya menyegarkan. Perlahan warna orange lembut membias di bibirku, serasi dengan bolero rajut harajukuku. Masih pukul 18.50, Theo janji menjemputku tepat pukul 19.00. Masih ada 10 menit lagi waktuku mematut diri. Si mata elang itu mengajakku menghadiri ulang tahun ketua kelasnya.
Sekali lagi kupandang cermin yang membingkai seraut wajah dengan rambut ala Cleopatra. Tapi sepertinya ia tak secantik Cleopatra dalam sejarah. Wajahnya datar, tak secuil senyum menghiasi bibirnya yang bersemu orange. Wajah itu mencoba tersenyum tapi sepertinya tak rela. Bahkan ketika memaksakan diri hingga gigi gemerutukpun sang senyum masih enggan, yang muncul malah sebuah seringaian menakutkan Jangan-jangan Cleopatra sudah berevolusi menjadi medusa.
Ini pasti gara-gara benda itu, yang membuat sang Cleopatra hilang wibawa, rasa bangga yang selalu mencuat setiap kali orang-orang memuji betapa lentiknya matanya.
Aku benci wajah itu! Mengenakan benda itu seolah mengalungkan beban seberat 10 ton ke leherku. Aku benci kacamata! Ia membuatku merasa menjadi Bety La Fea, si lugu, bo’on, kuper, katrok, bla bla bla lain-lain sederet predikat menyebalkan.
“Pakai lensa kontak aja pa, aku ogah pakai kacamata. Aku kan pikun, bisa-bisa aku bakal lupa naruhnya,” tolakku ketika papa mengajakku memilih kacamata di optik langganannya.
“Itu masalahnya, karena kamu pelupa maka sebaiknya pakai kacamata saja. Bayangkan, kalau kamu pakai lensa kontak, terus kamu lupa mencopotnya sebelum tidur, bisa-bisa malah infeksi.”
“Tapi nanti kalau aku lupa naruh kacamatanya?”
“Kasih rantai saja, kaya bu Hebrink di TV itu, beres!”
Ogah! Tapi tetap saja aku kalah. Papa tetap membelikanku kacamata. Kata dokter, mata kanan dan kiriku sama-sama minus 3. Sebenarnya aku tidak pernah mengeluh tentang mataku tapi papa curiga pada hobi baruku, dekat-dekat dengan layar TV kalau ada film yang pakai terjemahan, dan mengkonsumsi jus wortel 3x sehari. Beliau memaksaku periksa. Hasilnya sebuah kacamata berframe cokelat muda bertengger di wajahku, Cleopatra berkacamata.
“Cleo!” Nah, suara mama, pasti Theo sudah datang. Oh ya, sebaiknya jangan heran kalau mama memanggilku Cleo, karena namaku memang Cleopatra. Aku lahir 5 tahun setelah papa mama menikah. Mereka menginginkan aku nantinya secantik pharaoh itu. Padahal menurutku masih banyak perempuan cantik selain Cleopatra, Lady Diana atau Jessica Alba misalnya, tapi mama ngeyel menamaiku Cleopatra. Alasannya, Cleopatra adalah lambang kesetiaan. Well, aku bangga menyandang nama besar itu. Tentu saja sebelum aku berkacamata.
“Cleo!” seruan mama kedua kali. Sekali lagi kutatap cermin. Wajah di sana tersenyum ceria. Cleopatra tanpa kacamata. Mark Antony, eh, Dimas Theo tak boleh menunggu lama-lama. Di ruang tamu ku kapten basket itu menatapku takjub, membuatku blingsatan, taruhan wajahku pasti merah.
“Wow, ratuku cantik! Lho, kacamatanya mana?”
“Gak usah pakai ah, ribet!”
“Pakai saja. Aku suka kamu pakai kacamata, kesannya, kamu gadis yang pintar.
“Kamu mau membandingkan aku dengan Nana?” Nana itu teman sekelasku. Si bintang kelas, murid teladan, si ekor kuda berkacamata. Theo tertawa lebar.
“Buah jambu buah semangka”
“Ih apa’an sih, malah berpantun”
“Ratuku tetaplah sang Cleopatra”
“Awas kalau kamu macam-macam!”
Theo nyengir. Tapi malam itu, demi Mark “Dimas Theo” Anthony, Cleopatra ikhlas berkacamata.

*****



Aku mondar-mandir. Ruang kelas ke ruang ganti, ke kantin, bolak-balik aku bongkar isi tas dan lokerku. Theo membuntutiku seperti kacung sambil menggerutu panjang lebar. Amnesia temporariku kambuh. Aku lupa menaruh kacamataku dimana.
“Capek aku Cleo! Coba kamu ingat-ingat lagi dimana menaruhnya tadi.”
Kugaruh kepalaku yang tidak gatal. Seolah bisa menguatkan kerja otakku menggali memori, tapi ingatanku terbatas pada jam pertama ada materi Speaking dibab. Bahasa dan jam ke 3 Olahraga. Seingatku sebelum main basket, aku menaruhnya di kotaknya, di tas. Tapi, ternyata sekarang benda itu tak ada. “Jangan-jangan di Lab. Biasanya kamu ribet melepas kacamata kalau pakai headset.” Biasanya aku malah ga pake kacamata kalau ke Lab Bahasa. Sebulan berkacamata, aku masih gerah memakainya paling kalau ada menulis atau ke kantin.
“Ya sudah, kita ke Lab saja”
Masih mengenakan seragam olahragaku dan Theo yang mengorbankan pelajaran Matematikanya demi menemaniku, kita menuju Lab. Sepertinya tidak ada kegiatan siswa disana, tapi pintu Lab terbuka, muncul Pak Hari, laboran Lab Bahasa, Nana dibelakangnya.
“Cleo ada yang ketinggalan juga? Kenapa anak muda sekarang hobi pikun ya”tusk Pak hari.
“Nana ketinggalan apa Pak?” tapi sepertinya pertanyaanku tak perlu jawaban karena aku tahu Nana sedang memegang sebuah benda, kacamataku, “Lho, itukan kacamataku. Bener juga ketinggalan di Lab,” kuambil kacamata itu dari tangan Nana.
“Tapi Cleo, itu kacamataku,” bantah Nana hendak mengambil kacamata itu kembali, tapi aku menepisnya.
“Punyaku Na, warnanya, mereknya, punyaku,”
“Cleo, tadi kacamatanya ada di meja Nana” Pak Hari angkat bicara.
“Tapi Pak, kacamata yang ini asli, yang punya Nana pasti tiruannya,”
Tiba-tiba Nana tertegun memandangku, lalu mencoba tersenyum.
“Ya sudah, ma’af ya Cleo,” si ekor kuda itu berbalik dan langsung melangkah, pun Pak Hari.Segera kupakai kacamataku, lalu kusadari Theo masih disana terdiam.
“Kenapa?”
“Kamu kok gitu, seolah-olah kalimatmu tadi menyiratkan kalau Nana takkan mampu membeli kacamata yang sama dengan kacamatamu,”
“Tapi Theo, kacamata ini memang mahal, sementara kita tahu, bagaimana kehidupan Nana, Ayahnya sakit, ibunya tukang cuci, SPPnya saja selalu telat, jadi mana mungkin dia mampu kalau yang tiruannya sih mungkin.”
“Tapi sebaiknya kamu minta ma’af pada Nana, ia pasti tersinggung.”
“Gak mau, aku tidak salah kok.”
“Awas lho, jangan sampai kamu menyesal karena rasa bersalah berkepanjangan, lalu bunuh diri seperti Cleopatra yang asli.”
“Memang Cleopatra mati bunuh diri ya?” tanyaku polos.
“Ya, dia sengaja membiarkan dirinya dipatuk ular berbisa. Apa kau mau aku mencarikan ular berbisa buatmu. Secepatnya aku menghubungi Panji Si Pawang Buaya itu.”
“Akh! Kamu jahat!” Theo berlari menghindariku yang hendak menjitaknya. Aku mengejarnya ke kelasku, lalu mencubitinya gemes. Tiba-tiba aku merasa ada yang tidak beres.
“Kenapa Cleo?
“Kepalaku pusing.”

*****

Sore itu hujan rintik-rintik ketika aku pulang dari tempat praktek Dokter mata. Papa menyuruhku periksa lagi. Jangan-jangan minusku bertambah karena aku selalu merasakan pusing semingguan ini jika mengenakan kacamataku. Bisa jadi itu karena ukurannya sudah tidak sesuai lagi dengan minusku. Tapi Dokternya sedang ada operasi, jadi prakteknya tutup.
Habis maghrib aku berniat membaca Buku tiga serial Percy Jackson dan Dewa Dewi Olympia, tapi baru sampai di halaman ke dua, pusing menyerangku lagi. Tiba-tiba aku ingat, sering pusing adalah tanda-tanda tumor otak, hiks……jangan-jangan……
“Theo ….. hiks……” tak tertahankan sedihku segera kutelpon Theo.
“Lho, ada apa? Telepon kok nangis?” Diseberang Theo bingung.
“Jangan-jangan aku pusing-pusing karena tumor otak deh. Hidupku tak lama lagi.”
“Hush. Aneh-aneh saja. Itu gara-gara kamu malas pakai kacamata.”
“Kan aku sudah pakai terus.”
“Jangan-jangan itu memang kacamata Nana, jadi kamu tidak cocok.”
“Mungkin….” Jujur semingguan ini sejak kejadian di Lab, aku memang agak ga enak pada Nana. Aku tak yakin aku meninggalkan kacamataku di Lab, meski sampai sekarang aku belum tahu keberadaan kacamataku. Satu hal lagi, Nana tidak pakai kacamata setelah kejadian itu. Jadi mungkin kacamata ini memang miliknya. “Theo….” Aku ragu.
“Ya.”
“Besok antar aku ke rumah Nana ya”
“Lho, bukannya kamu ketemu dia tiap hari?”
“Dia sudah tidak masuk sekolah 2 hari ini, sakit.”
“Siip.”
HUFFhh. Lega aku, semoga ini benar-benar kacamata Nana, sepertinya lensanya memang lebih tebal dari milikku. Tapi dimana kacamataku ya,bisa-bisa Papa marah besar kalau kacamata itu benar-benar hilang.
“Cleo, ada temanmu” tiba-tiba Mama muncul di pintu kamarku.
“Siapa Ma?”
“Nana”
“Nana?” echoku dengan nada tak percaya.
“Cepat keluar, dia tidak mau masuk, katanya sedang tergesa-gesa.”
Aku buru-buru berlari ke depan, dan menemukan Nana dengan baju setengah basah. Hujan masih gerimis satu-satu.
“Nana? Ayo masuk dulu, kamu ga bawa payung?”
“Tidak Cleo, aku terburu-buru. Aku cuma mau mengembalikan ini” Nana menyorongkan sesuatu padaku.
“Kacamatamu.”
“Kemataku maksudnya.”
“Ya, itu kacamataku kamu meninggalkannya dikantin, tapi Mbah kantin mengira itu punyaku, jadi ia menyimpannya, sementara yang di Lab, itu memang kacamataku. Maaf ya Cleo, tanpa sengaja kemarin saat aku mencobanya jatuh, kacanya pecah, tapi sudah kuganti kok. Ternyata memang kacamata kita sama Framenya. Dokter Ravi yang menghadiahkan padaku, ibuku juga padanya. Coba saja Cleo.”
“Dokter Ravi? Itu dokterku juga” menuruti kata Nana kupakai kacamata itu. Rasanya ringan, sepertinya ini memang kacamataku. “Bener Na, kacamataku. Pantesan aku selalu pusing kalau pakai kacamatamu, maaf ya kemarin kata-kataku agak kasar.”
“Tidak apa-apa, sudah biasa kok.”
“Ya sudah, sebentar kuambilkan kacamataku.”
“Tak usah Cleo. Sekarang aku tidak membutuhkannya lagi.”
“Matamu sembuh, kamu berobat dimana?” Nana tidak menjawab, hanya tersenyum.
“Aku pulang ya,” seperti dibius aku membiarkan Nana menghilang dibalik gerimis. Aku baru sadar ketika gerimis menderas dan setitik muncrat ke lensa kacamataku , benar-benar kacamataku.

*****

Pulang sekolah aku dan Theo langsung ke rumah Nana. Ada bendera kuning di mulut gang rumah Nana, kelihatannya ada yang baru saja berpulang. Dan didepan rumah Nana banyak orang berkumpul, jangan-jangan…….
Theo memarkir mobilnya agak jauh.
“Jangan-jangan ayah Nana, kamu turun duluan ya, aku nunggu disini dulu” Tanpa menjawab Theo segera turun dan menuju rumah Nana. Ia bercakap-cakap dengan seseorang disana sambil sekali-sekali memandang ke arahku. Tak sampai 3 menit dia sudah kembali.
“Siapa yang meninggal Theo?” Tanyaku tak sabar.
“Nana”
“Nana ?”
“Ya, dia kecelakaan kemarin, tabrakan mobil saat hendak menyeberang jalan dari apotik, menebus resep obatnya.” Pasti gara-gara dia tidak memakai kacamatanya. Ini salahku. “Ya sudah, kamu turun, kita kembalikan kacamata Nana, sekalian Takziah.”
Kurogoh tasku, mengambil kacamata Nana dalam kotak, kuberikan pada Theo.
“Lho, ini kacamata Nana? Lalu yang kamu pakai?”
“Ini kacamataku sendiri.”
“Baru? Atau kamu menemukannya di toilet rumahmu?”
“Tidak, Nana yang mengembalikannya. Katanya kacamataku tertinggal di kantin. Mbak kantin mengira itu punya Nana, jadi dikembalikan ke Nana.”
“Kapan Nana ke rumahmu?”
“Tadi sore, setelah aku telpon kamu,”
“Habis maghrib kan?” aku mengangguk , kulihat Theo menatapku miris, aneh,”
“Kenapa?”
“Nana meninggal setelah Ashar,”
Beberapa detik masih kulihat Theo bicara, tapi tak kudengar suaranya. Tiba-tiba semua berputar pandanganku berkunang-kunang, lalu gelap hitam!

HARI HARAN DAN UANG KEREWENG

Hari haran adalah seorang pelajar yang pandai tetapi miskin. Ia ingin ke ibukota untuk mengikuti ujian, tapi ia tak punya uang. Ia mencoba mencari pekerjaan kesana kemari.Dalam perjalanan, ia melihat seorang lelaki tergeletak di jalan sedang mengerang kesakitan. Laki-laki itu terluka.
“Tolong aku anak muda” rintihnya kesakitan
“Apa yang terjadi pak?”
“Aku dirampok, aduh!” setelah mengucapkan kata itu, laki-laki itu pingsan. Hari haran membawanya ke rumah dan merawatnya hingga sembuh. Laki-laki itu bernama Krisnamurti, ia seorang pengusaha bakpau yang terkenal di kota. Setelah sembuh, ia berniat pulang. Ia tahu Hari Haran yang baik hati itu sedang membutuhkan pekerjaan, ia hendak mengajaknya ke kota bersamanya.
“Terimakasih Hari Haran. Sebagai ucapan terima kasihku, ikutlah aku ke kota, aku akan memberimu pekerjaan menjaga salah satu toko bakpauku.”
Maka berangkatlah Hari Haran ke kota bersama Pak krisnamurti. Dia diberi amanat menjaga salah satu cabang toko bakpaunya yang baru saja berdiri. Ternyata nama Pak krisnamurti sudah tersohor dimana-mana sehingga orang-orang tidak meragukan kualitas bakapau yang dijualnya.
Tapi karena toko Hari haran masih baru, maka pembelinya belum terlalu banyak. Hari haran gencar berpromosi dan ramah melayani pembeli yang dating. Ia selalu tersenyum meski ada pembeli yang cerewet. Orang-orang jadi suka dengan hariHaran dan selalu membeli bakpau di tokonya. Bahkan orang yang dulunya tidak suka dengan bakpau jadi penasaran membeli. Toko Hari Haran semakin hari semakin ramai pembeli.
Pak krisnamurti senang sekali memiliki karyawan seperti hari Haran. Pemuda itu tak hanya cermat dan ulet dalam berdagang, ia pun jujur. Tak hanya itu, ia juga bersemangat meraih cita-citanya. Jika siang hari ia sibuk di took, maka malam hari ia gunakan untuk membaca buku. Pak krisnamurti juga tahu hari Haran selalu menabung uangnya dan tidak berfoya-foya membeli sesuatu yang tak ada gunanya.
Tapi saying, Negara lalu dilanda krisis moneter. Semua harga naik, BBm naik, sembako naik. Orang-orang jadi hemat berbelanja. Took bakpau hari Haran pun terkena dampaknya. Pembeli berkurang. Tiap hari jumlah bakpau yang dijual jumlahnya dikurangi, tapi tetao saja ada sisa, akhirnya mubadzir dan basi.
Suatu hari, Hari Haran sedang terkantuk-kantuk di tokonya yang sepi ketika dating seorang nenek dengan cucunya yang sedang menangis.
“Apakah kau Hari Haran?”
“Iya nek, kenapa?”
“Kata orang kau baik hati.”
“Ah nenek, biasa saja. Jangan memujiku seperti itu, nanti aku jadi sombong. Allah tidak suka manusia yang sombong. Apakah nenek mau membeli bakpau?” Tanya Hari Haran.
“Ya, cucuku ingin sekali makan bakpau, tapi aku tidak punya uang.” Kata nenek itu memelas, “Maukah kau memberinya sebuah saja.”
Tanpa menjawab, Hari Haran segera membungkuskan 5 buah bakpau dan memberikannya pada cucu nenek itu.
“Nah adik kecil, terimalah. Bakpau ini enak lho, ada yang isi kacang hijau, coklat, kehu, kau pasti suka.” Katanya pada cucu si nenek,
“Tapi, tapi tidakkah itu terlalu banyak? Dengan apa aku harus membayar?” nenek itu ketakutan.
“Nek ini tidak usah bayar, anggap saja ini hadiah dariku utnk adik kecil ini.”
“Apa kau tidak takut akan dimarahi pemilik toko?”
“Tidak, aku akan bilang akulah yang membeli bakpau itu.”
“Kalau begitu aku bayar pakai ini saja.” Nenek itu mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya, ternyata sebuah uang dari pecahan genteng yang dibentuk bulat, biasanya disebut uang kereweng. “Anggaplah ini hadiah dariku, simpan baik-baik.”
Hari Haran Cuma tersenyum, tapi diterimanya uang kereweng itu. Si nenek segera mengajak cucunya pergi. Sepertinya cucunya sangat senang mendapatkan bakpau yang diinginkannya. Hari Haran menyimpan uang kerewengnya dalam tabungannya.
Ternyata keesokan harinya nenek itu datang lagi bersama cucunya. Lagi-lagi ia mengatakan ingin membeli bakpau tapi tak punya uang. Hari Haran dengan senang hati memberinya Cuma-Cuma dan nenek itu membayarnya dengan uang kereweng. Hari Haran sudah senang, karena nenek itu selalu berdo’a untuknya,
“Semoga Allah membalas budi baikmu Hari,”
“Amin.”
Hingga terkumpullah uang kereweng itu dalam tabungan Hari Haran. Sampai akhirnya suatu hari tibalah waktu ujian dan Hari Haran harus pergi selama beberapa hari. Dengan berat hati ia memberitahu si nenek kalau besok ia tidak berjualan.
“Nek, mulai besok aku tidak berjualan, sementara akan digantikan orang lain, aku harus ikut ujian.”
“Tapi apakah aku masih bisa membeli bakpau dengan uang kereweng?” kata nenek sedih.
“Jangan nek, penjualnya bisa marah. Begini saja, ini aku ada uang sedikit. Nenek pakai saja uang ini untuk membeli bakpau selama aku pergi.” Hari Haran menyerahkan senbagian tabungannya pada nenek. Nenek menerimanya dengan gembira. “Oh ya nek, doakan aku lulus ujian ya.”
“Tentu Hari, aku akan mendoakanmu.”
Maka berangkatlah Hari Haran ke tempat ujian dilaksanakan. Dia harus berada 2 minggu lamanya disana. Pak Krisnamurti memberinya sedikit uang sebagai bekal. Semula Hari Haran menolaknya, tapi Pak Krisnamurti bersikeras. Ia berharap Hari Haran bisa lulus dengan baik. Sementara Hari Haran menitipkan tabungan uang kerewengnya pada Pak Krisnamurti.
Seminggu mengikuti ujian, tiba-tiba ada kabar buruk. Toko bakpau pusat milik pak Krisnamurti terbakar hingga tak bersisa. Pak Krisnamurti jadi sedih dan sakit karena memikirkan usahanya yang bangkrut. Mendengar hal itu Hari Haran jadi sedih. Ia ingin menengok pak Krisnamurti tapi ia belum selesai ujian.
Ketika ujian selesai ia bergegas ke rumah Pak Krisnamurti. Ternyata penyakitnya begitu parah sehingga ia hanya bisa tergolek di tempat tidur. Demi pengobatannya, Pak Krisnamurti bahkan menjual beberapa tokonya. Pak Krisnamurti menjadi sangat miskin sekarang.
Hari Haran sangat ingin membantu, tapi ia juga sudah tak punya uang. Tabungannya habis untuk membayar ujian. Padahal ia sudah menganggap Pak Krisnamurti seperti orang tuanya sendiri. Sedih rasanya melihatnya terbaring sakit tak berdaya.
Hari Haran diberitahu temannya kalau ada seorang tabib manjur di negara tetangga yang bisa mengobati segala macam penyakit. Ia memberitahu pak Krisnamurti tentang itu.
“Hari, sebenarnya aku juga telah mendengarnya. Aku memang berniat kesana, tapi aku tak punya uang. Aku ingin memakai uangmu, tapi kau tak ada. Jadi aku menunggumu pulang untuk minta ijin.”
Hari Haran terkejut, seingatnya ia sudah tak punya uang lagi.
“Tapi saya tak punya uang pak.”
“Apa kau lupa Hari, sebelum kau pergi ujian, kau menitipkan tabunganmu padaku. Aku masih menyimpannya. Bolehkah aku meminjamnya untuk biaya berobat? Jika aku sehat nanti aku akan mengembalikannya”
Hari Haran tersipu dan bingung. Ia ingat ia memang menitipkan tabungannya dari kaleng bekas susu pada Pak Krisnamurti, tapi isinya bukan uang, tapi kereweng pemberian nenek yang datang meminta bakpau.
“Tapi…”
“Tolonglah Hari, aku membutuhkan bantuanmu. Aku menyimpan tabunganmu di bawah kolongku, ambillah.”
Hari Haran mengambil kaleng dari bawah kolong tempat tidur Pak Krsinamurti dengan bingung. Ia khawatir Pak Krisnamurti akan kecewa jika tahu kalau didalam kaleng itu hanyalah kereweng dan bukan uang.
Hari Haran dengan gemetar mengambil kaleng tabungannya yang sepertinya lebih berat disbanding ketika dia menyerahkannya pada Pak Krisnamurti dulu. Sambil menahan nafas ia membuka tutup kaleng tabungannya, dan langsung terkejut melihat isinya. Bukan uang kereweng, tapi koin-koin emas yang berkilauan.
“Aku heran kau menabung begitu banyak.” Kata Pak Krisnamurti. Hari haran hanya diam. Dalam hati ia mengucap syukur pada Allah yang maha kuasa. Dia mengganti apa yang diberikan Hari Haran pada nenek peminta bakpau.
“Ya Pak, semoga uang ini bias dipakai berobat dan bapak bisa sembuh seperti sedia kala.”
Akhirnya dengan koin emas tersebut Pak Krisnamurti berobat ke tabib. Ia kembali sembuh dan bias merintis kembali usaha bakpaunya yang bangkrut. Sementara Hari Haran lilus ujian dengan nilai terbaik dan diangkat menjadi seorang pegawai bank di ibukota.
Namun sayang, ketika hari Haran kembali ke tokonya yang dulu untuk mencari keberadaan nenek peminta bakpau, ternyata tak seorangpun mengaku mengenalnya.

Senin, 13 September 2010

AN HOUR UNJOMBLO

“Ini namanya senjata makan tuan!”
“Tenanglah, semua pasti ada solusinya”
“Tak ada solusi, yang ada cari mati!”
“Slow down key, berpikir jernih”
Klak klok, klak klok, Ku on/off kan lampu belajarku, bohlam menyala padam, bolak-balik, sebolak balik hatiku berpihak, jujur atau bohong sih?
Kebohongan tak akan menang, sekali kau berbohong, maka kau harus menutupinya dengan kebohongan yang lain. Kebohongan seperti tabungan, sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit.
Tapai kalau jujur, Airin bisa sedih karena gagal jadian sama Fian. Harus bohong demi kebaikan, demi persahabatan.
Tak ada namanya berbohong demi kebaikan, dan persahabatan yang dinodai kebohongan tidak akan bertahan lama.
Aiih…..pusing! bohong atau jujur sih?
Aku bangkit, harus ada yang aku lakukan, dan itu bukan bermain bohlam. Kumasukkan laptop ke dalam ransel. Kutinggalkan kamar dengan harapan di luar sana aku akan mendapatkan pencerahan.
“Ma, aku nyari hotspot di alun-alun” pamitku pada mama yang lagi dipijit Mbak Ruti.
“Jangan sore-sore pulangnya, papa mengajak kita makan malam di luar.”
“Sip bos!” masih jam 3 sore, paling tidak jam 5 aku pulang.
Sejak di alun-alun bisa akses hotspot, tiap sore di sana selalu ramai orang-orang yang ingin memanfaatkannya. Ada sebuah tempat favorit, bangku batu di bawah pohon keres di sudut barat daya, biasanya aku di situ, bersama beberapa orang asing lainnya. Tidak saling kenal, hanya duduk diam menatap monitor masing-masing tersenyum tertawa sendiri, asyik berkelana di dunia maya, tapi kelihatannya sore ini aku sendirian saja.
Baru saja kubuka laptopku, ponselku berdendang, Airin?
“Key, dimana?”
‘Ehm…” aku celingukan kiri kanan, jangan-jangan Airin ada di sekitarku, “Lagi jalan sama Dewa.” Huff, kupastikan tak ada dia, Bisa gawat kalau dia memergoki di sini.
“Dimana?”
“Ada dech, mau tahu aja” kupastikan juga suaraku tenang, tak ada tanda-tanda kebohongan.
“Takut aku bergabung ya?”
“Ssst.. aku sedang membicarakan acara kita.”
“Oooh….”
“Dia sepertinya ga mau nih”
“Ya udah, selamat merayu saja ya, bye.”
“Bye….”
Telpon ditutup, lega rasanya, tapi kulihat gelombang kebohonganku telah berubah jadi tsunami yang siap menelanku.
“Aku sudah suka dia sejak kelas X, aku tidak menyangka dia juga menyukaiku,” Airin sangat bahagia ketika Fian menampakkan sinyal-sinyal asmara. Cowok berambut cepak itu mengajak dinner nanti malam, tapi secepatnya raut Airin berubah sedih. “Tapi aku tidak mau kamu merasa terabaikan. Kita kan punya kesepakatan,” kalimat Airin memang bernada sedih tapi sebenarnya akulah yang paling sedih. Kesepakatan itu kita buat sejak SMP, jika salah satu belum punya pacar, maka yang lainpun tidak boleh punya pacar. Itu sebenarnya tak adil untuk saat ini, untuk Airin. Dia cantik, elegan, semua cowok mengincarnya, sedang aku cuma si gendut, kutu buku, tidak ada menariknya. Terbukti selama ini aku jadi penghalang Airin untuk menerima salah satu cowok pengagumnya. Betapa jahatnya aku!
“Kesepakatan itu tidak berlaku lagi.”
“Tidak Key, kamu tidak boleh berkorban demi aku.”
“Maksudku, kesepakatan itu kita akhiri saja. Sebenarnya aku juga sedang dekat dengan seseorang.”
“Apa?” Airin mendelik. “Kamu sudah jadian? Jahat kamu!”
“Belum baru PDKT. Aku ingin cerita padamu, tapi waktunya belum tepat, tapi sekarang sepertinya inilah saat yang tepat.”
“Akh, nakal kamu!” Airin meninju pundakku, dia tidak pernah tahu di dadaku baru saja timbul sebuah tunas kebohongan, “Siapa dia, teman sekolah kita juga?”
“Tidak, teman di facebook,” tunas itu mulai berduri, menusuk jantungku.
“Dunia maya?” semangat Airin hilang, dia memang paling benci hobiku yang satu itu, “Pacar cyber? Kenapa sih….”
“Tidak, kita sudah ketemuan kok!”
“Wow, great! Cakep ga?”
“Ya iyalah….”
“Ya sudah kalau begitu besok ajak dia makan malam barengan aku dan Fian.”
“Tapi….” gawat!
“Double date!”
“Tapi…..” parah!
“Tapi apa?” Airin menatapku tajam, “Jangan bilang kau cuma bohong, ku berkhayal punya pacar, sengaja hanya untuk membuatku senang dan tidak merasa bersalah jika aku jalan sama Fian!” semburnya telak, “Aku benci teman pembohong!”
“Tidak, aku tidak bohong.”
“Ya, sudah. Sampai nanti malam,” Airin menciumku tepat bel berbunyi, tanda istirahat kedua berakhir. Dia berlari ke kelasnya XI IPS2 dengan semangat penuh cinta. Sebaliknya, dengan gontai aku kembali ke kelasku, XI IPA1.
Double date! Ini gila. Percakapan tadi siang itulah yang membuatku resah tiada kepalang. Harus kutemukan si Dewa itu.
Jujur saja, memang ada nama Dewa di friendlist facebookku, tapi Dewa itu entah siapa aku tidak tahu. Aku mengenalnya entah di mig33, nimbus, atau mxit, aku bahkan lupa. Aku asal comot namanya tadi karena sesaat sebelum Airin datang kita sedang chat di Ebuddy.
Apa aku harus mengontrak Dewa yang itu untuk jadi pacar? That’s impossible! Aku bahkan tak yakin namanya benar-benar Dewa seperti pengakuannya, apa ia masih muda atau sudah jadi om-om kumisan (hii! parah!).
Tapi bagaimana kucari Dewa, pacar untuk 2 jam saja! Tuhan beri aku jalan, ini demi kebaikan persahabatan.
+ Bagaimana kalau mengontrak salah satu teman chatting yang sudah pernah kopi darat?
- Tidak bisa. Nanti dia pasti siar-siar di facebook kalau aku mencari pacar sewaan, malu dong!
+ Bagaimana kalau teman SMP?
- Tidak mungkin, temanku SMP adalah teman Airin juga, mereka pasti saling kenal.
+ Bagaimana kalau cowok di sebelahmu?
(di sebelah ada cowok lagi browsing, baru datang 5 menit yang lalu)
- Tidak, tidak kenal.
+ Kamu parah, pembohong yang payah!
- Ya!
“Kenapa mbak?” cowok itu kaget, rupanya “ya” kuserukan tantang.
“Tidak apa-apa, maaf,” nyengir aku jadinya. Buru-buru kututup laptopku, sebaiknya aku segera pulang lalu tidur, sebelumnya aku telepon Airin, pura-pura sakit mendadak.
+ Dasar pembohong!
- Biar saja!
“Ssst…. diam!” tiba-tiba ada yang menggamit lenganku begitu aku berjalan 2 langkah. Lalu setengah menyeretku mengikuti langkahnya. “Tenang, aku bukan orang jahat. Aku cuma mau minta tolong, sebentar saja.” Masih bengong tidak tahu apa maksudnya dengan minta tolong, aku menurut. Habisnya ketika kulirik sekilas, ia seorang cowok….. mirip…. mirip….
“Jadi ini yang namanya Toni?
Toni? Maaf, namaku bukan Toni… eh, eh, dia tidak sedang berbicara denganku kan? Tapi pada sepasang cowok cewek yang sepertinya sedang bermesraan. Si cewek kelihatan sangat terkejut dan cowoknya (pastinya si Toni) cuma heran.
“Revan? Kamu di sini? Kamu sudah pulang? Kapan?” cewek itu salah tingkah. Ooo… sepertinya aku paham. Cewek itu adalah pacar Revan, cowokku- cowok yang sedang menggandengku mesra, tiba tiba tergianf di benakku, Oo kamu ketahuan, pacaran lagi…. (versi dangdutnya Uut Permatasari).
“Ya, dan sepertinya aku mendapatkan hal yang tidak menyenangkan.”
“Tapi, Re, aku bisa jelaskan, ini tidak seperti yang kamu bayangkan.” Huu, klise, menjiplak kata-kata di sinetron. Ah, ga bisa lebih kreatif dikit apa?
“Maaf, Lira.” Oh, namanya Lira, “Aku sudah punya dia. Kamu salah kok kalau menilai aku bersih. Aku juga sama sepertimu. Aku juga sama sepertimu,” Revan memandangku mesra, sementara Lira memandangku dengan tatapan yang seolah berkata: Apa tidak salah memilih cewek gendut macam itu? Masa aku dibandingkan sama dia?
Hem, harusnya Lira sadar aku membalas tatapannya: Heh, cewek gendut pun punya hak punya pacar tampan seperti Tomy Kurniawan (nah, aku baru ingat wajahnya mirip siapa).
“Sebaliknya kamu jangan ganggu dia lagi,” tegasku.
“Ya, baiklah Lira. Kita selesai, ayo kita pergi”
“Rey! Rey!” masih kudengar teriakan Lira, tapi sepertinya Reyvan tak peduli. Ia lagi-lagi setengah menyeretku, dalam diam. Belum sampai cukup di situ. Karena Lira terus mengejar, ia memaksaku naik mobilnya dan segera tancap gas meninggalkan tempat itu. Aku duduk diam seperti tergendam.
“Thanks ya. Kamu mau menolongku,” 10 menit setelahnya baru dia angkat bicara. Aku tahu dia sedang terluka.
“Cewek begitu memang kudu diberi pelajaran,” hiburku “Dia tidak pantas buatmu,” ehem… dengan kata lain: akulah yang pantas buatmu, weleh.
“Kutraktir makan ya sebagai rasa terima kasih. Namaku Revan.”
“Sudah tahu. Aku Keyla.” Kami berjabatan. Tiba-tiba aku dapat ide. “Enggak, aku tidak mau makan. Aku minta tolong saja. Bisa ga?”
“Apa?”
“Kamu…..”
“Hah?”

Double date itu, candlelight dinner. Airin bertanya macam-macam tapi sepertinya Revan cukup mahir berperan seperti Dewa. Namun aku tak mau menyiksanya lama-lama, lagi pula Revan hanya punya waktu 1 jam untukku. Itu sudah sangat lama dibanding aku cuma membantunya beberapa menit.
Sebelum makanan utama datang, aku buru-buru pamit pada Airin dan Fian. Alasannya, aku dan Dewa mau nonton KCB 2”.
“Maaf, ya,” tukas Dewa-Revan-penolongku sopan. Taruhan Airin pasti heran karena aku bisa menggaet cowok secakep Revan. Tapi sepertinya dia sudah terlihat nyaman dengan Fian.
Tapi tentu saja, tak ada KCB2. Adanya kami berpisah, di perempatan jalan dia menurunkan aku dari Avansanya.
“Thanks ya, pacar sewaan” aku melongok dari balik jendela mobil. Ia tidak turun.
“Sama-sama pacar sewaan, kalau butuh aku lagi telepon aku”
“Kurasa tidak. Selamat jalan.” Kulambaikan tangan.
“Kalau begitu aku saja yang menelponmu”
“Kau kan tidak punya no ponselku.”
Kita tertawa berbarengan.
“Ah, ya, Ya sudahlah selamat tinggal
Avansa itu meninggalkanku sendiri. Aku tersenyum, aku jomblo lagi. Besok aku harus jujur pada Airin, aku putus dengan Revan. Aku Cuma jadian satu jam.

PINO DAN PONI

Pino dan Poni adalah sepasang anak beruang kembar. Mereka sangat mirip, yang beda hanyalah Pino lebih gendut dari Poni.
Suatu hari ibu panda menyuruh Pino dan Poni pergi ke rumah nenek. Mereka membawa oleh-oleh untuk nenek.
“Pino, karena kau lebih gendut, maka kau yang membawa kapuk, nenek membutuhkannya untuk mengisi bantal.” Kata ibu beruang sambil menunjukkan sekarung kapas pada Pino.
“Ya Bu.” Pino menjawab dengan patuh.
“Dan kau Poni, kau membawa garam saja. Nenek juga butuh untuk menggarami ikan agar nanti musim panas dia tidak perlu menangkap ikan lagi.” Ibu beruang juga memberikan satu karung garam pada Poni
“Ya Bu.” Poni mengangguk.
“Kalian harus cepat kembali ke rumah sebelum malam. Kelihatannya hujan akan turun.”
Lalu, berangkatlah dua ekor beruang itu ke rumah nenek. Sepanjang jalan Pino bernyanyi dengan riang sambil menggendong sekarung kapas di punggungnya. Sementara Poni., karena bebannya lebih berat, ia jadi sering tertinggal di belakang. Sesekali Pino berhenti untuk menunggu saudaranya itu. Lama-lama Poni jadi capai. Ia kesal dan iri.
“Pino, berhenti sebentar!” teriaknya. Pino segera berhenti. Poni menurunkan bebannya, keringatnya bercucuran.
“Tapi kita harus cepat sampai ke rumah Nenek. Lihat, langit sudah mendung, mungkin sebentar lagi hujan.”
“Ya aku tahu. Tapi Poni, sepertinya ibu tidak adil. Dia memberimu beban yang lebih ringan, padahal kamu gendut. Sementara aku yang kurus harus membawa beban seberat ini. Bagaimanan kalau kita tukar barang saja, kau membawa garamku ini, sedang aku membawa kapasmu.”
“Apa Ibu tidak akan marah?”
“Ibu kan tidak tahu.”
Pino menuruti saja kata kakaknya. Ganti ia yang membawa garam dan Pino yang membawa kapas. Sekarang gantian Poni yang bernyanyi riang karena bebannya jadi ringan. Sementara Pino bolak-balik berhenti karena bebannya terlalu berat.
Tiba-tiba hujan turun. Awalnya gerimis tapi semakin deras. Pino dan Poni berteduh di bawah pohon, tapi tetap saja mereka kehujanan. Mereka jadi basah kuyup.
Tak lama kemudian hujan berhenti. Pino mengajak Poni melanjutkan perjalanan. Tapi baru beberapa langkah Poni berhenti.
“Pino, barang bawaan kita tidak tertukar kan?”
“Tidak kak,” Pino menggeleng, “Aku membawa garam dan kakak membawa kapas.”
“Tapi kenapa sekarang bebanku sepertinya sangat berat ya.”
“Aku tidak kak, malah lebih ringan.”
Mereka melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian mereka sampai ke rumah nenek. Disana nenek menyuguhkan segelas coklat hangat.
“Poni, kamu kelihatannya lelah sekali.” Tanya nenek.
“Ya Nek, bebanku berat sekali, padahal tadi sebelum hujan sangat ringan.” Jawab Pino.
“Ya Nek, ini aneh sekali. Bebanku yang tadinya berat, setelah hujan malah menjadi ringan.” Poni juga bicara.
“Kalian pasti menukar bawaan tadi, ya tidak?” Nenek bertanya lagi.
“Kok nenek tahu?” Pino dan Poni menjawab bersama. Mereka jadi heran.
“Tadi ibu menelepon nenek ketika kalian berangkat. Dia bilang Pino membawa kapas dan Poni membawa garam.”
“Ya Nek, tapi di tengah jalan kak Pino menukarnya. Aku yang membawa garam, dia yang mebawa kapas.” Kata Poni.
“Nah, tadi di jalan kalian kehujanan kan?”
“Kok nenek tahu lagi?”
“Ya ya ya. Kalian tahu tidak, kalau garam terkena air ia akan mencair, itu berarti beban Pino akan berkurang dan menjadi lebih ringan. Tapi jika kapas terkena air, ia akan menyerap air itu sehingga beban Poni semakin berat. Ibu kalian sudah mengatur begitu, jadi jika nanti kehujanan, maka Pinolah yang membawa beban lebih berat dati Poni.”
“Oooh..” Poni dan Pino mengangguk-angguk.
“Lain kali Pino tidak boleh iri dengan adikmu ya.”
“Ya Nek. Pino maafkan kakak ya.”
“Ya Kak.”
Pino dan Poni bersalaman. Ketika pulang, nenek menghadiahkan mereka sepasang ikan salmon segar.

Rabu, 25 Agustus 2010

PANEN PLECO

Akhirnya ia setuju dengan ide Tomi untuk membudidayakan Pleco dengan cara yang semestinya. Jika tidak, maka populasinya yang berlebih di kolam itu akan merugikan. Bukan hanya kemungkinan kanibalisme, tapi rusaknya pematang karena hobi menggali Pleco. Dan yang terpenting, toleransi dengan tetangga yang tak bosan mengeluhkan nyasarnya makhluk-makhluk itu ke tambak mereka, yang katanya mengganggu komunitas yang mereka pelihara, padahal jelas Pleco adalah makhluk herbivora.
Telah diputuskan, sejak pukul satu dinihari tadi, tambak pleco yang telah disat airnya dengan dua pompa, hingga yang tersisa hanyalah bubur lumpur yang selalu berkecipak memuat pleco-pleco yang kaget terkena udara bebas. Matahari sepenggalah. Tiba saatnya sekarang, panen pleco.
Semula ia hanya memelihara satu, lalu dua, tiga, seratus, sejuta. Mungkin tak terhingga. Pasti sudah beranak pinak makhluk itu dalam kolam 6m x 7m yang dikhususkan untuk menampungya. Semoga saja mereka tak saling memakan karena berebut makanan.
Orang-orang sekitar, para tetangga sudah heran sejak dulu pertama ia memelihara makhluk itu. Malah menganggapnya kurang kerjaan, menyediakan kolam khusus, tapi ia tak perduli. Ia mencintai mereka; Hypostomus Plecostomus
Diawali dari rasa miris.
Sisi kemanusiaan.
Atau sekedar menunda kepunahan.
Lebih dari itu, mungkin sebuah pembelajaran hidup, buruk rupa bukan dosa, bukan salasan untuk tak berguna.
Tuhan tak pernah mencipta sesuatu untuk sia-sia.
Tia hari ketika ia berangkat mengajar, selalu saja ia sakit hati, menyaksikan makhluk-makhluk malang itu bergeletakan di jalanan yang dilewatinya, ia ditugaskan di sebuah desa yang masih kental dengan suasana agraris jadi jalanan selalu diapit sungai kecil dikiri kanannya, sarana irigasi persawahan sekitar. Beberapa makhluk mati, membusuk bak ikan asin tak digarami, beberapa masih setengah mati, bergerak, diam, bergerak, pasrah. Dan tentunya masih ada pula yang masih segar menggeletak, tak rela berpisah dengan perairan. Namun akan segera tertuntaskan penderitaan mereka jika ada kendaraaan lewat dan melindasnya hingga daging lembutnya moncrot dari kulitnya yang kasap, penyet, berlepotan, berceceran, membuat perut mual. Tapi kebanyakan orang malah enggan menggencetnya karena takut kulitnya yang kasar keras itu merusak ban, sehinga ia akan tetapdisana, meregang nyawa, menggelepar, hingga akhirnya tak sanggup lagi bergeming, lunglai, mati, mengenaskan.
Karena ia sekedar pemakan lumut dan kotorankah?
Rupanya pun tak ada menariknya untuk jadi hiasan di kotak kaca. Hanya hitam kecoklatan bertotol putih atau coklat keemasan. Mulutnya yang tak seperti kebanyakan ikan, terletak diujung, hampir menyatu dengan abdomennya, semakin menambah seram penampilannya. Mengkonsumsinyapun tak hendak, dagingnya keras tersembunyi di balik sisiknya yang serupa baju besi.
Tak ada kelebihan yang dimilikinya, sehingga ketika para penjala menemukannya dalam jala, mereka lebih sering kesal dan menyingkirkannya begitu saja.
Waktu itu ia sedang berangkat sekolah seperti biasa ketika seorang penjala memunguti hasil tangkapannya. Ia segera menghentikan sepeda motonya, aku harus bertindak, tentu dia ini salah satu oknum yang suka membuat pleco tersiksa, pikirnya.
“Kenapa tidak dikembalikan ke air, kan kasihan.”
Yang ditegurnya memandang aneh, pertanyaan yang sepertinya tak wajar, belum pernah selama ini ia bertemu orang yang menegurnya untuk mengembalikan jenis ikan yang tak diperlukannya ke sungai.apa untungnya? Apalagi seekor pleco?
“Buat apa Pak? Biar mati saja dia, biar habis yang di sungai sana. Didit itu merusak jala saya. Lihat, sampai robek-robek terkena siripnya. Diajuga memakan ikan-ikan lainnya di sunagai.”
Salah! Pleco memakan alga, phytoplankton, zooplankton, bukan ikan. Dia guru Biologi, ia paham itu. Pleco itu makhluk pemalu, hanya sesekali muncul di permukaan untuk mengambil oksigen, jernihnya air sungaipun tak lepas dari campur mulut si pleco (bukan campur tangan!) yang suka melahap kotoran yang kadang kala disinggahkan dengan sengaja. Tapi kenapa orang tak beranggapan positif padanya. Suckermouth cat fish = momok!
“Tapi sampean begini sama saja dengan membunuhnya pelan-pelan dia juga bisa merasakan sakit. Kita sama-sama makhluk tuhan.”
“Alah pak guru, Cuma ikan tak berguna. Kalau pak guru berkenan, ambil saja, saya tak sempat membantunya kembali ke sungai.” Penjala itu ketus, lalu melanjutkan pekerjaannya.
Diskriminasi! Ia hanya akan mengambil mujair dan beberapa udang yang nyangkut di jalanya, selebihnya, lagi lagi, keong-keong darat, beberapa sepat dan seekor pleco dibiarkannya terserak. Dan begitulah, mereka lalu akan menemui ajalnya dipanggang mentari. Beruntung kepiting, ia masih bisa berlarian. Jika beruntung ia akan kembali ke air. Sepat beruntung, ia juga cepat mati pun Besusul. Sedang Pleco, ia punya kemampuan bernafas dengan udara, akibatnya penderitaan menuju ajalnya lebih lama.
Tiba-tiba ia ingat, ia selalu menyimpan plastik keresek di jok sepedanya, penjala itu hanya tertawa geli melihatnya memasukkan pleco ke plastiknya, memberinya sedikit air. Juga dilemparkannya kembali ke sungai para besusul dan sepat. Kalau diteruskan begini, bisa terancam punah makhluk-makhluk ini, dulu masa kecilku masih sering kutemukan Gondang, tapi sekarang sudah langka, gerutunya dalam hati.
“Mau dibawa pulang beneran Pak?”
“Ya, buat isi aquarium.” Ia memang punya aquarium di rumah, tapi tak berpenghuni. Dulu Dani yang membelinya ketika sedang musim Lou han. Tapi sejak Dani nge-kos, Lou Hannya sering sakit-sakitan, lalu mati. Jadi penghuni gudanglah aquarium itu.
“Ikan itu cepat berkembang biak pak, mati satu tumbuh seribu.”
“Tak apa-apa, biar nanti cucuku tidak sekedar melihatnya di televisi.”
Ia pulang. Ia melepas seragam dinasnya, mencuci bersih aquarioum, mengisikan air, dan terakhir memasukkan pleco ke dalamnya.
“Kunamai kau Dower.” Usai semuanya, ia meletakkan aquarium di tempatnya dulu di ruang tengah, bersebelahan dengan televisi. Ikan itu naluriah menempelkan moncongnya di kaca, melekat bak sepasang bibir mendower. Ada buncah bahagia menyerbunya.
Obat kesepian.
Istrinya sudah mendahului menghadapNya dua tahun lalu. Tiga anaknya sudah meninggalkan rumah. Utami menikah, ikut suaminya diluar jawa. Tomi dapat beasiswa belajar ke Amerika. Dani, yang masih SMU, Cuma seminggu sekali pulang. Sebentar lagipun dia pensiun.
Jam Sembilan ia kembali berangkat ke kantor. Sepanjang perjalanan, ia merasa aneh dalam pikiranya.
“Aku jatuh cinta, pada sapu-sapu.”
Begitulah awalnya. Ia lalu tergila-gila, hypostomus Plecostomus!
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Acyinoeterygii
Ordo : Siluriformes
Family : Loricarridae
Genus :Hypostomus
Species : H. Plecostomus
Kebanyakan ditemukan di Brazilia, peru, Costarica dan Panama. Bisa mencapai umur 14 tahun dengan panjang 18-24 inchi. Hidup di air tawar dengan ph 6-7dan suhu 72-80.
Tiap melihatnya menggelepar di jalan, buru-buru ia membawanya pulang dan ditampung di bak mandi, begitu banyak berdesak-desak mereka disana, sehinga ketika Dani pulang, diajaknya si bungsu merombak salah satu tambak, separuhnya buat pleco.
Andai istrinya masih ada, ia pasti akan geleng kepala, suaminya berkelakuan penyayang binatang macam Tarzan.
Dani terheran-heran, ayahnya jadi ayah angkat pleco si ikan.
Utami kesal, ia tak mau Pleco dijadikan warisan.
Tomi tak berkomentar, tak ada yang mengabarinya kalau kedudukannya digusur seekor ikan.
Ia tak perduli, ia mencintai mereka: plecomania!
Lalu akhirnya ia pensiun. Luang waktunya membuatnya semakin kecanduan pleco.
Pagi-pagi ia bersepeda pancal, menyusur jalanan yang dilewatinya dulu, mencari pleco-plceo baru. Siang hari, sambil istirahat ia mengamati tingkah laku Dower yang tubuhnya sudah menyesaki aquariumnya. Sore hari ia memanjakan pleco di kolamnya dengan bayam, labu, selada. Ia tahu, begitu banyak pleco disana. Pleco telah beranak pinak. Pleco kawin, bertelur dan menetaskan pleco-pleco naru.
Ia membuat pengumumam, barangsiapa menemukan pleco hidup-hidup dan menyerahkan padanya, ia akan tukar persekor dengan seribu rupiah.
Ia keranjingan: plecoholik!
Dan tiba-tiba suatu pagi, ia menemukan beberapa klangenannya itu bergeletakan di sepanjang pematang kolam. Beberapa mati, beberapa hidup. Ia kumpulkan yang mati, ia kembalikan yang masih bernyawa ke kolam. Tapi esoknya ia temukan lagi, esoknya lagi, dan semakin banyak jumlah pleco yang mati, tak hanya di pematang, tapi di kolampun mengapung pleco-pleco tak bernyawa.
Ia gelisah, seseorang pasti sengaja membantai pleco-pleconya, meletakkanyya disitu agar ia menyaksikannya. Semakin hari semakin menjadi, sepertinya itu bukan tanpa alasan, mungkin sebuah pelampiasan, kesal, protes, atau ancamankah?
Tapi kenapa?
“Karena pleco itu mengganggu bandeng saya.” Enteng Lek Diman menjawab saat ia memergoki tetangga tambaknya itu dengan kesal melempar pleco dari tambak bendengnya ke pematang. Pleco itu menggelepar.
“Bagaimana bisa?”
“Lah apa sampeyan tidak tahu, ikan yang sampeyan pelihara itu suka ngerong? Dan ia membuat jalan tembus ke tambak saya.”
Ia tertegun, ia baru ingat, pleco memang punya hobi meggali terowongan terlebih pada musim kawin, ia akan menjadikan terowongan itu sebagai sarang. Si betina akan bertelur dan yang jantan akan menjaganya sampai menetas.
“Bukan hanya di tambak saya, dia juga nyasar ke tambaknya Parmin, Gunadi, Ahkmad, dan entah siapa lagi, mungkin dia sudah menguasai semua tambak disini.”
“Tapi ikan-ikan ini tidak makan ikan.” Belanya tak kalah garang.
“Memang, tapi rongnya itu, bisa-bisa merusak pematang, lalu ikan-ikan kita akan lari ke tambak orang. Rugi kan?”
Ia diam saja, semula ia senang bisa melakukan sesuatu yang berguna, melestarikan ikan-ikan itu, sebuah langkah kecil untuk mengungkapkan terima kasih pada alam, tapi ternyata ia tak memikirkan dampak lainnya.
“Lagian sampean mau apakan sih ikan tokek itu? Dimakan tidak bisa, dijualpun hasilnya tak laku. Mending dikembalikan ke sungai. Memelihara ikan yang lazim saja pak. Jujur saja saya kasih tahu, teman-teman disini, sudah sangat kesal dengan ikan-ikan bapak. Jangan-jangan kalau sudah habis kesabaran mereka, mereka nekat meracun ikan-ikan bapak. Mereka masih diam karena menghormati bapak sebagai guru…”
Ia tak mau dengarkan kata-kata Lek Diman lagi. Ia pulang. Ia menelepon Tomi.
Ia tidak turun, hanya menyaksikan dari jauh saja keriuhan itu dari tepi kolam. Tomi melarangnya ikut-ikutan bergumul dengan lumpur untuk berburu pleco. Jadi ia mengamati saja para tetangganya yang suka rela, bahkan dengan senang hati menangkapkan pleco-pleconya, mengumpulkannya dalam dobong.
Kadang terjadi keributan. Pleco-pleco berontak saat ditangkap. Harus mandi lumpur mempertahankannya.padahal harusnya Pleco yang nocturnal itu lebih ganoamg ditangkap di siang hari, tapi harus lihai-lihai menangkanya agar terhindar dari goresan sisik dan siripnya.
Api mereka bersemangat melakukannya, laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak! Berhasil menangkap satu, mereka memburuyang lain.
Kadang ada, aduh
Kadang ada asyik
Dobong-dobong mulai penuh, dan ia berkali-kali berkomando, “Itu teralu kecil, kembalikan. Nah, ya, itu benar, nanti kita buat pepes pleco, sate pleco, pecel pleco!’
Beberapa hari sebelum ia menemukan pleco-pleco mati ia sudah menghubungi Tomi. Ia sudah tua, sebentar lagi mati jika ia mati siapa yang akan meneruskna langkah menyantuni ikan-ikan itu. Ia tak bisa membayagkan nantinya mereka ayang telah dikumpulkan itu akan dikembalikan ke habitat semula, lalu pemandangan itu akan terulang lagi. Pleco-pleco bergeletakan di jalan, mati. Lalu anak cucunya hanya bisa melihatnya di museum dan film animasi
Tak diduga Tomi malah kegirangan mendengar curhatnya. Sudah lama ia ingin bercerita bahwa selama dia kuliah, ia bekerja part time di sebuah restoran yang menjadikan pleco sebagai salah satu menu andalannya. Pleco tak kalah enak rsanya dengan sepupu jauhnya; lele. Hanya saja dagingnya lebih sedikit, karena porsi tubuh terbanyak hanyalah kulit. Ia jadi ingat banyak pleco yang disia-siakan di kampung halamannya. Ia jadi berniat mengenalkan menu itu pada lidah Indonesia.
“Yang penting adalah kulitnya Pak. Kulit itu ternyata bisa disamak, lalu dijadikan produk yang kualitasnya tak kalah bagus dengan kulit buaya.”
Semula ia tidak setuju. Tomi hanya berpikir dari sisi komersial, bukan kompromi dengan alam, menu pleco, berarti pembantaian besar-besaran.
“Tentu saja tidak Pak. Kita hanya akan memanfaatkan pleco yang cukup umur. Yang lain, yang masih muda akan kita buatkan kolam khusus untuk pembiakan dan penangkaran. Jadi sementara kita mengolah pleco dewasa, kita juga mengembangbiakkan generasi barunya.”
Tomi berencana mengambil cuti bulan depan dan sudah menghubungi temannya di Bojonegoro yang memiliki usaha produksi kerajinan kulit Pleco, tapi keburu Lek Diman protes. Karenanya, ia kembali menemui laki-laki itu setelah dia menelepon Tomi.
“Ya sudah, aku minta tolong sama sampeyan. Carikan orang, biar saya bisa panen ikan-ikan itu. Secepatnya.”
Lek Diman bengong: panen pleco???
“Ya, tapi sementara ambil yang besar dulu. Yang kecil biarkan, menyusul dua atau tiga hari kemudian. Akan kubuatkan kolam khusus dulu buat mereka, tidak disini, tapi di belakang rumah.”
Lagi-lagi Lek Diman benging: buat apa??

*****

Matahari sepenggalah, telah sepuluh dobong penuh Pleco sebesar lengan orang dewasa, tapi sepertinya lebih banyak lagi yang masih berkubang di lumpur kolam. Orang-orangpun belum kehilangan semangat menangkapninya. Mungkin sebuah euphoria peristiwa langka; panen pleco.
Dan dia, diam-diam pulang dengan sebuah kelegaan luar biasa menyeruduk hatinya. Setidaknya hari ini ia bias memperlakukan alam dengan bijaksana.
Tapi baru sampai teras rumah, Tomi menyusul pulang. Ia bersama dua orang. Satu membawa kamera, satu menjabat tangganya. Ia bingung.
“Ada yang mau ketemu Bapak, dari televisi lokal.” Tomi tersenyum.
“Ya pak, yang kami dengar anda bersinisiatif memelikahra ikan-ikan sapu-sapu karena sebelumnya menemukan ikan ajaib, namanya Dower…”
Dower? Ia tak mendengar lagi lanjutan kalimat reporter TV, buru-buru ia masuk rumah dan menengok ke aquarium. Dilihatnya ikan kesayangannya itu diam, diam dan diam.
Ia terpaku, aquarium itu selalu jernih. Dower selalu rajin membersihkannyanya sendiri, tapi ia pun terbiasa dengan asupan kacang dan selada dari empunya. Dan tadi pagi, empunyal memberinya,. Ia sibuk dengan rencana pada kolam.
Hari ini dia panen pleco.
Hari ini dower mati.

Selasa, 17 Agustus 2010

MARIA SHOPHIE

Tepat di menit ke 16 sblum pukul 9 q tiba disini, tmpat kramat bg q dan shophie. Angin berhmbus membw dingin dr utara. Surya terbelenggu awan putih berarak. Puing2 bngunan ini smakin angker saja. Bambu kuning dulunya pagar, kini menghutan. Patahan kayu bekas meja kursi terserak berbaur dlm hijau rumput dan alang2 tmpat brmain para capung dan kupu2. Sarang laba2 berglantungan. Membuatku slalu berpikir kalo mrk adlah siluman pnghuni tmpat ini, ditambah suara2 aneh dr rimbun bambu. Brada di suasana mistis tmpat ini membuatku slalu brdebar. Bukanx takut, tp menanti shophie masihlah hal yg paling mendidihkan adrenalinku. Tapi tetap saja aku melakukanx.

Agak nyeleneh memang perjanjian ini. Setiap 8 desember, aku dan shophie harus bersua di bekas SMU kami yg tinggal reruntuhan. Sementara jarak dan waktu telah menjadi penghalang yg seolah terburu buru melarikan diri. 17 th brlalu dan cm 1 yg tak brubah.

Cuma bringin di sdt kbn skolah yg msh ko2h brdiri. Ia yg slalu bs memutar mundur roda waktu ke masa lampau saat b dan sophie sepakat merangkai pita film kehidupan penuh darah muda yg mencapai box office dlm memori kami meski tnp stradara setingkat james cameroon atau stephen spielberg, akan tetap hidup sampai maut menjemput.

Shophie yg imut, slalu membuatku tertawa. Shophie my little one, rambutx yg blonde cepak memucatkan wajahx yg asli pucat dg bintik2 merah melanin. Spasang kejora biru yg slalu memancarkan sinar aneh bila q menatapnya. Tapi sophie tak terlalu anggun sbgai wanita. Ayah arkheologx mendidikx menjadi pribadi yg tegas dan tahan banting. Hasilx, seorang shophie yg maskulin meski senyumx slalu membangkitkan gairah lelakiku.
Dan aku menyukaix, smua bagian darix.

Entahlah, sepertinya ada sbuah ikatan,prasaan saling memiliki bila bola mata kami bradu, menggelora, butir2 darah bertubrukan, kaki gemetaran. Cinta? Apa benar q dan shophie memilih kata itu sbgai definisi engganx perceraian tubuh dan jiwa kami?

Tapi kepedihan itu datang, seiring kebersamaan kami di tahun ke3. Gempa meluluh lantakkan gedung, rumah, masjid, dan sekolah kita. Saat itu, 3hari usai gempa, ayah shophie memutuskan kembali ke negeri kincir anginx, dan tentu saja membw shophieku bersamax. Aku terkulai di floresku, remuk redam, tanpa harapan saat shophie kecilku yg mendadak jadi prempuan dwasa membiarkanku mereguk manisx anggur merah kaya madu duniawi yg sharusx terkunci di almari kesucianx. Kami menikmatix hambar. Dan shophie janji akan dtng tiap tahunx di 8 desember, ulangtahunx.
Slembar daun bringin jatuh menyentuh hidungku. Bangku batu yg kududuki trasa beku, sebeku kenangan tntang shophie masa lalu yg mlambaikan tangan ketika cm stangkai mawar putih kuberikan dihari trakhirx. Meski, meski tiap 8 desember ia tetap milikq seutuhnya.

Terdngar deru mobil berhenti. Hatiku melonjak. Ia telah datang, untuk ke 17 kalix. Shophieku! Aku makin gelisah. Padahal akar2 juntai bringin bergoyang mencambukku utk menyambut kekasih.

Ia sdh trn dr taxinya, dg setelan coklat muda. Rambutx tergerai sebahu, Gucci hitam tercangklong di bahu kiri, dan kotak kecil terayun ditangan satux. Agak hati2 ia menapaki rumput dg spatu hak tinggix. Wajahx anggun bak permaisuri yg harus menjaga kharismax.

Akh, ia memang sophie yg asing sejak 10th lalu. Ia bukan Maria Shophie, tp Ny Shophie Benhdie. Tahun lalu ia datang dg perut gendut utk ke3 kalix, membuatku urung melaksanakan niatku. Tapi tdk utk kali ini, aku tak mau mundur. Hasrat kotor krn aku tak pernah cukup puas dg hanya menikmati Shophie di 8 desmbr. Ini yg terbaik bagix, bagiku, bg cinta yg terbentur bidak permainan sang arkheolog. Shophie menikahi Benhdie, rekan ayahx. Dan aku, fauzan, kematus dalam kenangan.

"Zan!"

aku terpaku dalam diam. Tatapan shophie yg brada bbrp meter di dpanku membekukan nadi. Ingin q berontak mendapatkan bibirx, tp trnyt q trlalu menundax hingga tak sadar ialah yg sudah lekat didadaku. Memelukq erat hingga aku bs merasakan nafasx di kulitku dan goncangan kerinduan, air bening di pipi.

"Shophie."

"Zan, kukira kau tak mau datang lagi." ia melepas pelukanx. "Aku mimpi buruk, kita jatuh dari pesawat."

"sssh..." kubungkan kalimatx dg sntuhan telunjukq di bibir merahx. Menatap matanya yg... Oh, Tuhan! Ini membuatku tak sabar. Oh, please.. Jngan buat aku tegang karena menanti menikmati ini!

"kita sudah berjanji kan?" shophie tersenyum, menghapus pipiku yg basah. Kuraih tanganx utk duduk di bangku batuku.

"kau tak bw mobil?" dia mengusap usap wajahku, bibirku.

"dipakai istriku." aku memainkan anak rambutx...
Kami berdua berpandangan sejenak, aku dapat menebak apa yang ada dibenak Sophie. Tentu tak jauh dari yang aku harapkan selama ini. Sebuah pertemuan yang penuh gairah biru. Namun mungkihkah itu? Tidak, batinku mer...onta. Ia istri orang kini, tak jauh bedanya dengan diriku yang sekarang. Bahwa ada dua hati lain yang mengikat hati kami. Sesaat kembali bergetar dalam diriku. Debar hati yang tidak asing lagi. Sepasang matanya mengisyaratkan sesuatu. Hal yang sama seperti di 8 yang telah hilang dari rabaan panca indera kami. Kepasrahan dan juga ada kerinduan yang kuat. Sophie tidak menolak ketika aku mencium bibirnya. Juga tidak menolak takala aku memintanya untuk duduk disampingku. Saling berjuang mengendalikan tembang asmara lama yang sedang berlagu di diri kami masing-masing. Bertatapan. Kami berdua jadi salah tingkah. Kembali Sophie menunduk. Itulah caranya berkata, bahwa ia menginginkan akhir dari episode biru dahulu
" Sophie!", aku berbisik lirih di telinganya.
Perutnya yang membesar beirisikan jabang bayi yang dinantikan lelaki lain, detik itu pula hatiku tersayat sayat.
"Ya?", balasnya tak kalah lirih. Lantas ia menoleh kepadaku. Sepasang mata kami be...rcumbu. Ah, semua dari masa lalu kini hadir dan mencekikku. kesan-kesan yang masih lekat di benakku menghadirkan pesona masa lalunya. Begitu indah dan terasa akrab. Hei, teriaku dalam hati, daster merah jambu yang ia kenakan, bukankah itu adalah warna kesukaannya? Ah, kembali aku tersiksa.

" Zen? " katanya. Dan tanpa menungguku ia lanjutkan ucapannya," apakah cinta sejati itu benar ada?"
Aku tak mampu menjawabnya.
Sebuah bayangan menyentakku, Dan aku terbangun, segera menoleh , Sophia sama sekali tak ada disisiku. Ah, barangkali saja, lantaran sedemikian besar perasaan rinduku kepadanya membuatku jadi bermimpi yang bukan-bukan tentangnya. Tentang Maria Shopieku. Bidadari berdarah daging dari masa laluku yang kini resmi menjadi Sophie .
Benhdie.
Jawabnku singkat tapi menghasilkan tusukan dr matax

"kau slalu memanggilx bgtu? Istriku, sayangku?"
aku angkat bahu. "rasax, skali2 aku dipanggil bgtu olehmu."

..."tidak,kau bkn istriku. Kau kekasihku, sephiaku."

shophie tertawa.dibukax kotak kcil yg td dibwanya. Ah, kue chery. Slalu kue yg sama stiap tahunx. Dan aku, tentu saja q membawakanx sesuatu yg sama pula tiap tahunx, jus tomat. Katax tomat bnyk mengandung lycopen, bikin awet muda. Kusiapkan 2 gelas, untuknya, untukku.

"biar qt slalu muda sayang!" kutuang sgelas buatx.

"kau?"

"aku? Tentu saja q ingn mencicipi kuemu dulu." kuraih sepotong kue bgtu dia meraih gelasx.

"Avnat sudah 10 th. Ia ingin skali ikut kesini. Mungkn dia merasa, disinilah harusx dia berada." shophie bicara kalem, kerongkonganku tersekat, ingin q minum, tp kutahan, aku tak boleh tergoda.

Oh, Mengapa ia bgt bahagia seolah memiliki sbuah tanda mata dariku. Avnat, anakq disimpanx sbgai knangan. "ia dirimu, tak jauh darimu." ia mulai meneguk minumanx.

"tapi kau mencintaix! Si benhdie itu, kau bahagia dgx kan?" kuambil sekue lg, enak! Q kecanduan.

"kau jg bhagia!"

"ya, tentu saja! Aku punya istri, anak..."

"hentikan zan!" shophie membanting gelasx, pecah berserak. Tiba2 perutku mulas. "kau munafik! Aku brani memotong lidahku jika q salah, kau pasti membayangkan aku di tiap tidurmu, merasai istrimu sbgai aku!"

"sudah,"kusentuh ujung dagux, "pertemuan qt bukan utk brdbat hal yg ga penting mcm itu."

"ya," shophie mengelus ujung hidungku dg telunjukx,lalu mengisi gelas satux. Ayo, habiskan sayang, aku mulai bergairah meski perutku kian mulas,melilit, entah salah makan apa q td. "aku kesini krn aku rindu padamu." ia meneguk lg gelasx.

Terserah, aku tak mau komentar. Aku terlalu asyik membayangkan stelah ini dia hanya akan jd milikku, bkn benhdie!

Tapi ya ampun! Perutku! Isix berontak ingin meminta hangat dunia! Brengsek! Apa aku harus meninggalkanx disaat ini? Tidak! Sari tomat itu hampir habis, dan aku mendekati titik kemenanganku, hasrat yg trwujud dlm senyumku ketika shophie membiarkan jari2ku menelusuri wajahx. Oh, brengsek! Pnderitaanku sepertix bertambah, tiba2 pening hebat menyerbu jalinan syarafku.
"zan.."
jemari shophie meraih jemariku, bibirnya mendekati telingaku, tubuhx merangsek padaku, "aku ingin mengatakan sesuatu." bibirx gemetar, segemetarx aku karena pusing dan kram yg mencengkram perutku, mual menggemuruh. Sepert...inya makananku memaksa bebas dari jalan atas, saliva mencair dlm mulutku, aku menggigil, tanganku mencengkram bahu shophie erat. "aku slalu berpikir tentang ini.." kalimatx berdengung di rumah siputku, wajahnya tak berbentuk di mataku, yg ada hanya sakit! Sakit! Perutku menggelegak, bak diaduk aduk samurai dan garpu. Oh, aku tak tahan, panas! Perih!
Sgalax berputar, warna2 berubah kunang, otot2ku kaku mengejang, mataku seolah mau lari dr keranjangx. Stngah sadar, menggigil hebat kusaksikan shophie meneguk lg sari tomatx dg tangan kiri. Tangan kananx, memeluk leherku erat.
Oh, knp ia ms...h tegar padahal...ah, apa tujuanku malah berbalik menyerangku. Aku rasa aku telah mencuci tanganku dg sabun anti kuman, 7 kali bilasan!

"zan!" shophie membuang gelasx dan memelukq seeratx, nafasku sesak, aku merasa sekarat!

Aku dan shophie tersungkur dlm gigil di permukaan bumi berumput. Wajahx lengket di dadaku, nafasx tenang. Knapa? Knapa? Padahal jelas aku sudah mencampurkan racun tikus di sari tomatx, knapa malah aku yg susah payah merasa ajalnya.. Apa aku terlalu jahat pd shophie? Hingga harus lewat aku pedihnya rasa malakul maut menjemputnya? Kesakitanku merajah tulang sungsum. Kurasa ada asin basah melelehi hidung dan mulutku.
‎"zan, kucampurkan sianida di kuemu."

tiba2 aku ingin ktawa, cinta adalah kejahatan!

"racun tikus!"
...
tubuh kita masih saling berpeluk dlm basah. Aku tak tahu, dia menggigil sendiri atau karena aku tak bisa merasakan lg gerakanku. Diam, tak bth kata, aku meracunix, dia meracuniku. Adil. Dan kami akan pergi bersama sbgai para pendosa!

Akar beringin menjuntai kaku, angin datang mengadu duka, menyatukan dua roh yg melayang ketika tubuh2 mengejang. Cahaya menjadi warna warni dan ada sbuah tangga putih menuju langit.

"zan, maaf."

"shophie, maaf."

PENARI PENARI

Kutolak ajakan Hanh menari malam ini, kukatakan padanya seorang teman dari masa laluku ingin bertemu aku, namanya Raden Ayu Cahya Berliani, putri keraton berdarah biru.
Aku akan menemuinya di Meteora, tepat jam 8 malam. Meski begitu aku sudah di sana setengah jam sebelumnya. Sudah lama aku sejak aku tak kerja lagi di sini, tak pernah aku mampir. Ray pasti sudah merindukanku. Begitu melihatku dia langsung menyapa.
“Hai penari!” aku risih dipanggil begitu. Andai aku ini Deny Malik atau Nungki Kusumawati tak apalah, tapi aku adalah aku, tiada pantas aku menggunakan nama besar ‘penari’. Tapi Ray selalu memanggilku begitu, si Aussi yang kulit putihnya sering buat aku iri.
“Beri aku minuman halal!” teriakku mengimbangi musik di tingkah ritma yang menghipnotis agar kepala menjadi bak pendulum. Seketika sepasang alis waitress cute itu menyatu, tanda berpikir keras, mungkin sebuah pertanyaan, kenapa Tamara dengan minuman halal, pikirnya itu merupakan sesuatu yang kurang normal. “Aku mau menjamu seseorang, teman special dan dia orang baik-baik. Dia akan datang sebentar lagi, jadi kuharap, kau sebagai seseorang yang mengutamakan pelayanan terbaik…”
“Orang baik tetapi datang ke tempat semacam ini?” Ray sepertinya tak tahan utnuk tidak bertanya
“Bukankah aku dan kau juga orang baik? Tapi kenapa kau dan aku berada disini?”
“Okelah!” Ray angkat tangan. “2 orange juice, buat sang penari dan teman spesialnya!” akhirnya dia undur diri juga, aku lega. Ia dating lagi membawa minumanku, tapi tak bertanya lagi. Cuma tersenyum.
Masih mengikuti detak nadi musik, kunikmati orange juiceku. Sebenarnya aku ingin minum, tapi demi menghormati tamuku, sebaiknya kutahan keinginanku. Kuarahkan pandang menyekeliling, tepat saat itu kulihat dia, CB. Dan mungkin sebuah telepati terjalin, diapun melihat ke arahku.
Bak purnama mencorong di kerumunan bayangan tonggak-tonggak setan, ia datang juga padaku. Pasti kesedihannya begitu dalam, sehingga ia lupa kalau telah membuangku sekian tahun dari kehidupan sucinya. Tapi bukan itu masalahnya, hanya kukira perempuan sederajat dia takkan sudi bertandang ke tempat macam ini. Didikan priyayinya pastilah mengharamkan dansa dan Martini yang 100% halal buatku, kecuali kalau dia memilih jalan kiri.
“Hai CB!” kusapa ia seperti dulu aku biasa memanggilnya, “Kukira kau tak jadi datang.”
“Tami.” Sedetik usai ia menyambut nama kecilku, ia menghambur ke pelukanku. Kusambut, tapi tak semesra dulu. Aku sudah hilang rasa padanya. Meski ia tak banyak berubah dalam tujuh tahun perjalanan hidup, toh ia selalu berada di kurva keberuntungan. Masih ia cantik, anggun, mempesona… seutuhnya keajaiban wanita. Tapi sepertinya secuilpun aku tak mencintainya lagi.
“Bisa kita bicara di luar saja, aku pusing di sini.” Sudah ku duga itu. Oleh karena itu sudah kusiapkan mobilku, kuturuti ia jalan-jalan di kotaku. Lampu-lampu berpendar, mengalahkan wajah bulan tanggal 13.Ttak ada mendung selapispun yang merintangi pandangan bumi ke langit, sama seperti aku dan CB, dulu.

*****

Aku dan kau, penari-penari, IKJ 1997. Sekarangpun kita masih sama-sama menari. Bedanya, sebelum menari kau berendam cem-ceman kembang setaman, lulur mangir dijampi mantra-mantra, aku; garam mandi dan busa, sambil merem melek mendengarkan J-Lo bersalsa.
“Kau banyak berubah Tam.” Taruhan ia sedang memperhatikanku dari rambut ke kaki. Yah. Pasti itu.
“Tak ada yang tak berubah di kehidupan ini, kecuali Tuhan, karena Dialah sumber perubahan itu.”
“Tapi kau masih menari kan?”
“Tidak!” maaf aku bohong. Sebenarnya masih, tapi tergantung minat, tepatnya peminat. Satu lagi beda kita, jika kau menari karena apresiasi seni, maka aku menari demi exploitasi diri.
“Tapi kau masih sahabatku Tam?” masihkan?” Ah, retoris sekali pertanyaannya. Masih, atau tidak ya?
Jujur. Aku dulu bahkan jatuh cinta padamu dulu Berlian. Kukira kau juga mau karena kau pertama tak menolakku saat malam-malam dingin usai mengerjakan paper, kadang di kostku, atau di kostmu. Sekali dua kali, lama-lama ketagihan. Kau malah meminta. Bukan dosa, tapi semacam simbiosis mutualisme.
“Kau mau menolongku kan?”
Mau andai aku tak patah hati karena lalu kau menikah di semester VI dengan lelaki pilihan orang tuamu, priyayi juga tentunya. Aku juga masih mau menolongmu andai lalu kau masih mau menyentuhku tapi kau tidak mau lagi. Kau dingin padaku sehingga aku ingin putus kuliah dan pulang ke kotaku. Alih profesi dari mahasiswa ke Disk Jockey.
“Please deh, Tam!” harusnya aku telah terbiasa pada keinginannya untuk memonopoli diriku dengan segala permintaannya, tapi kalimat itu sudah membuatku trauma, karena itu jugalah yang dia ucapkan saat hendak menikah. Dan betapa aku ingin meludahinya, juga pada mempelai laki-lakinya itu, Raden Surya Dinara.
“Perempuan itu juga penari.” Keluhnya mengiba. Aku jadi sadar kalau ia bena-benar butuh bantuanku. Ironisnya, ia 99,9% sempurna jadi perhiasan dunia, tapi suaminya yang priyayi itu memilih ingkar. Kini tugaskulah untuk menyelidiki perselingkuhan suaminya selama ia jadi duta bangsa ke Paris, ia akan menari di sana.
“Bagaimana kalau perempuan itu aku?” Aku cengengesan, “Aku kan penari, eh, mantan penari!”
“Impossible!” tawanya lepas, “Aku jadi ingat waktu aku mau nikah dan kau menangis. Surya pikir kau tak rela aku dimiliki olehnya hingga dia mau menikahi kita dua-duanya. Gila! Padahal memang kau tak rela kan? Andai ia tahu siapa kau!” tiba-tiba aku sesak nafas.
“Andai ia juga tahu siapa kau!” tawanya lenyap mendadak, semendadak kuinjak rem hingga berdecit.
“Tam, jangan marah! Aku…….”
“Jika kau bisa menikmatinya dengan Surya, kenapa aku tidak?”
“Kau serius Tam?”
“Kau jangan egois begitu! Kita pernah janji apapun milikmu juga milikku bukan?” gugatku tajam.
“Tapi bukan Surya Tam, bukan suamiku.”
“So what kalau dia? Kau tak rela?” CB tak bicara lagi, matanya berkaca-kaca. Aku jadi ingin tertawa sudah berhasil memompa adrenalinnya. “Dasar manja! Kenapa sih gitu saja nangis! Aku cuma bercanda. Mana tega aku padamu.” Kuraih kepalanya dan kuberi kecupan di dahi, meski tanpa perasaan. Mungkin hanya secuil iba. “Ya sudah, akan kujaga dia baik-baik. Kupastikan penari itu takkan berani lagi ganggu kau.” Ia diam, tak bisa membalas canda kejamku.
Dalam diam, kutertawa dalam hati. Ah, hidup memang aneh. Seperempat jam berlalu, kuantar dia ke hotel tempat dia menginap.
“Tak mampir dula Tam?”
“Aku ada urusan.”
Kuikuti ia menghilang ke dalam sana, lepas sudah aku dari neraka saat kuluncurkan kembali mobilku di jalanan kotaku. 10 menit kemudian HPku menyalak, Ray.
“Penari, pacarmu di sini!”
“Suruh dia pergi, akukan tidak kerja di situ lagi. Katakan padanya aku takkan pulang sampai pukul 6 esok pagi.”
Ray, undur diri, kupencet nomor lain.
“Hahn, I’m sorry honey, I’ll come to you, I wanna be with”
“I am waiting.”

*****

Apartemenku aman saja selama ini. Jika ada orang lain masuk, kupastikan dialah pelakunya. Cuma ia yang punya duplikat kunciku. Saat kulangkahkan kaki, terdengar suara shower di tingkah lantunan lirih, you know I can’t smile without you, can’t…..
Gombal! Sok melankolis! Aku langsung ke kamar. Aku ngantuk usai semalaman begadang bersama si Jepang Hanh. Biasanya aku akan molor sampai tengah hari, baru sarapan. Begitu ketemu kasur, kurasa nikmat yang luar biasa, tapi entah baru berapa detik berlalu, kurasa sentuhan lelaki di pipiku, tangan dingin bau sabun wangi dan shampoo di rambut yang masih setengah basah. Ia yang tempan, menyebalkan!
“Pagi cantik!” aku menggeliat, menguap, hendak meneruskan tidur tapi tak jadi, kucium bau kopi buatan tangannya.
“Aku ke tempatmu semalaman. Ray bilang kau sudah pindah.”
“Apa harus minta ijin padamu dulu?” kuteguk kopinya, lalu ku taruh di meja. “Dan berapa kali harus kukatan padamu, jangan datang ke tempatmu bekerja.”
“Lho, kenapa? Padahal aku suka melihatmu jadi DJ, aksimu OK!”
“Aku Cuma tak ingin dan tak suka Ray mengatakan kau pacarku.”
Kudengar tawa lebar, kutinggalkan tempat tidur menuju kamar mandi. Kubiarkan curahan air dingin membuang kantukku.
“Apa salahnya?” ia berseru dari luar pintuku. “Atau kau sudah tak suka jadi pacarku.”
Aku diam. Tentu saja aku suka. Sejak dulu aku sudah suka padanya sejak kita bertemu pertama kali di acara pertunangan temanku Raden Ayu Cahya Berliana. Ialah yang pertama kali memperkenalkanku bagaimana untuk jadi wanita sejati, tepatnya sehari sebelum pesta pernikahan temanku CB dengannya 5 tahun lalu. Awalnya aku merasa dikhianati tapi akhirnya aku menikmati. Kupikir, akulah pengkhianat itu sendiri.
“Jika kau bosan jadi pacarku, aku siap menjadi suamimu.”
“Maaf, aku tidak mau terikat.”
“Aku menyukai prinsipmu, itu kenapa aku jatuh cinta padamu.”
“Bukan karena kau ingin memanfaatkan aku kan?” tapi kutelan saja kalimatku itu, tak sampai hati aku mengatakannya padanya. Aku jatuh cinta padanya, cinta bukanlah pemanfaatan. Ini simbiosis, sama seperti aku dan Berlian dulu, hanya ini berbeda. Ini yang seharusnya terjadi. Ini normal.
“Istrimu kemana?”
“Ke Paris, menari.”
“Kau aneh memang. Istrimu penari, tapi ingin menari bersamaku.”
“Ah, dia penari panggung, tapi nol di tempat tidur. Kau penari yang asli, dia itu lesbi.”
Aku ingin tertawa, tapi tak tahu alasannya, entah bahagia atau terluka.
Usai mandi ia mengajakku menari sampai jelang surya mati. Biasanya akan menyenangkan tapi kali ini terasa hambar.
Entah, mungkin di suatu tempat di bilangan kota Pahlawan ini, CB sedang menari juga, entah bersama siapa. Ia juga bohong mengatakan kepergiannya ke Paris tadi siang, karena ia baru akan berangkat dua hari lagi.
Masih dalam pelukan raden Surya Dinara aku dibelai ragu, apakah sebenarnya putri keraton itu sudah tahu kalau sebenarnya penari yang dicarinya adalah aku.

KERETA

Aku konstipasi, ini sangat menyiksa! Minuman berserat sudah. Papaya, pisang, wortel, bengkuang, sudah kulahap semua. Tapi belum juga keturutan hasrat alamiku itu. Padahal biasanya tiap pagi aku selalu mendaftar ke kelakang. Kata orang tua dulu, kalau tidak bisa melaksanakan “ini” di suatu tempat, berarti tidak kerasan.
Aku memang tidak kerasan, meski ini rumah nenekku, ibu dari bapakku. 3 hari saja cukup disini. Aku ingin pulang. Harus hari ini.
Stasiun Sedadi pukul 06.15. Aku dan Bapak memilih naik kereta api dari stasiun kecil ini ke stasiun Bojonegoro, baru dilanjut naik bis ke Lamongan. Bisa menghemat waktu dan biaya kalau dibanding naik bis saja yang harus oper beberapa kali di beberapa terminal, Purwodadi-Blora, Blora-Cepu, Cepu-Bojonegoro, Bojonegoro-Lamongan. Naik patas, bapakku masuk angin, maklum orang udik.
Tapi sepertinya KRD yang akan kami naiki bakal telat. Sebuah kereta Executive masih mangkrak di stasiun sejak setengah jam lalu. Katanya ada kerusakan di mesin loko. Harus menunggu loko pengganti dari stasiun sebelumnya untuk bisa melanjutkan perjalanan. Penumpangnya pada turun, berjalan-jalan di sekitar stasiun, menambah padat antrian penumpang di peron stasiun kecil ini.
“Pulangnya ditunda besok saja Nduk. Lha wong liburnya masih panjang saja kok.” Bulik Pur menjejalkan entah apa lagi ke dalam kardus yang seyogyanya kubawa pulang sebagai oleh-oleh. Padahal bawaanku sudah cukup berat.
Aku Cuma nyengir saja pada sepupu bapakku itu, satu-satunya keluarga yang mengantar kami ke stasiun. Semalam kami tidur di rumahnya, dari stasiun hanya berjalan sekitar 50 langkah ke arah utara, lalu belok kanan, ada masjid. Nah, di sebelah timr masjid itulah rumahnya.
“Paling sebentar lagi lokonya juga datang.” Sanggahku yang disusul pengumuman dari pengeras suara stasiun yang menyatakan bahwa loko pengganti sedang dalam perjalanan dari stasiun Godong menuju Sedadi. Para penumpang kereta executive buru-buru naik, karena kereta akan segera diberangkatkan jika loko pengganti sudah terpasang. Dan… belum selesai pengumumannya, dan bahwa KRD masih akan telat dalam 45 menit ke depan. Aduhhh!!!
“Apa naik kereta ini saja?” usul bulik Pur.
“Maksudnya?” bapak yang sejak tadi membaca Koran menukas.
“Ya ikut kereta executive ini saja. Aku bisa nego sama pegawai stasiun.”
“Illegar passenger Bulik?” desisku.
“Jangan bicara bahasa Inggris, aku ora mudeng (aku tidak paham). Gimana? Aku bilangkan ya.”
“Illegal passenger itu penumpang illegal Bulik.”
“Ya tidak, kalian toh tetap membayar karcis kok . memang lebih mahal dari KRD, tapi jika dibanding naik bis, biayanya sama kok.”
Bapak berpikir sebentar, mungkin menghitung-hitung dalam hati. Aku tahu dia tidak suka jalan kiri. Sementara itu terdengar gemuruh dari arah barat, lokonya terlihat dari kejauhan. Aku jadi membayangkan naik kereta executive. Selama ini biasanya aku Cuma naik KRD, kereta ekonomi, dengan asongan bersliweran.
Tapi bapak menggeleng.
“Ga usah, menunggu KRD saja, yang sah-sah sajalah.”
“Ya sudah, aku pulang dulu, memandikan anaknya Mat dulu. Nanti kesini lagi, toh KRDnya telat kan?” Bulik Pur balik langkah, tapi belum genap sepuluh langkah dia berjalan, ia berbalik.
“Barangkali nanti tak sempat balik. Anaknya Mat biasanya nakal.” Katanya sambil memeluk dan cipika cipiki denganku, :Ati-ati ya Nduk, Mas. Salam buat Mbak Um.”
Dan akhirnya ia benar-benar pergi, meninggalkan kami yang sabar menunggu KRD.
“Terlalu beresiko kalau naik kereta ini. Kalau ketahuan tidak bawa karcis, bisa-bisa didenda. Malah tekor. Maunya untung malah buntung.”
“Terserah, yang penting pulang hari ini.”
Kurelakan kereta Executive meninggalkanku. Kuraba perutku yang butuh dikeluarkan racunnya. Rasanya tubuh ini membawa beban berat tak tertahankan. Aku duduk, facebookan dulu ah. Update status, sedang menunggu kereta…..
Ternyata tak sampai 45 menit menunggu, KRD sudah datang. Aku dan bapak buru-buru naik dan berdesak-desakan. Sepertinya tak ada tempat duduk kosong, semuanya sudah terisi.
Kereta meninggalkan Sedadi. Didekatku berdiri duduk seorang nenek yang sibuk menawarkan kursinya padaku. Katanya ia Cuma akan melewati dua stasiun selanjutnya saja. Di sebelahnya, sepasang suami istri muda. Si laki-laki asyik merokok, si perempuan sibuk meneteki bayi 3 bulannya (nenek tadi sempat bertanya usia si bayi pada ibunya). Tanpa malu-malu ia dan sepertinya tutup telinga pada beberapa remaja muda yang asyik berbisik-bisik mengenai sumber ASInya yang menggugah selera. Aduh, harusnya ia menutupinya dengan selendang, tak dibiarkannya terbuka begitu. Aurat. Aurat kenapa diumbar di tempat umum, dan suaminya sama sekali tak perduli. Astagfirullah!
Segera kupalingkan pandang ke arah jendela. Persawahan belaka. Beberapa pedagang asongan lalu-lalang sambil melengkingkan suara menawarkan dagangannya. Tiap mereka lewat selalu saja aku harus merubah posisi badan. Coba saja aku punya mobil sendiri, jadi tak perlu berhimpit-himpitan begini. Terjaga kehormatan seorang wanita.
Ponsel di sakuku tiba-tiba bergetar. Baru saja tanganku hendak bergerak menuju saku, tiba-tiba kereta bergerak aneh, meliuk tersendat-sendat, jeg…jeg…. Grrrekkk…..sssshhhhhh…… semua sibuk mencari pegangan. Beberapa berteriak memekikkan namaNya.
Mesin kereta berhenti. Kecepatannya berkurang , memelan, lalu berhenti total.
Kereta macet. Baru 1 kilometer dari stasiun Sedadi!
Kanan kiri persawahan menguning. Para penumpang rebut. Dari gerbong ke gerbong, mulut ke mulut, beredar berita, kereta mengalami kesalahan tekhnis, dan harus ditarik lagi ke stasiun Sedadi untuk perbaikan. Aduh…..
Akhirnya, Bulik Pur sudah menunggu di stasiun ketika aku dan bapak turun dari KRD.
“Nah, itu pertanda kalian sebenarnya tidak boleh pulang dulu.”
Ledeknya membuatku jadi putus asa. Andai saja ia tahu, aku tak tahan lagi dengan apa yang tertahan di usus besarku ini, medesak-desak ingin keluar, tapi begitu siap dikeluarkan, ia malah berbalik arah memberontak. Aku tersiksa!
Pengeras suara kembali berbunyi, kali ini mengumumkan bahwa kereta Executive Argo Muria akan segera tiba. Sementara KRD akan ditarik ke stasiun Godong untuk perbaikan mesin dan diperkirakan baru bisa beroperasi lagi kurang lebih 5 jam ke depan. Nah lho….
“Sudah, ikut Argo Muria saja.” Tawar Bulik Pur lagi. Bapak berpikir-pikir lagi, lalu memandangku.
“Apa tidak berbahaya tanpa karcis? Kalau ketahuan trerus didenda bagaimana?” Bapak mengungkapkan kekhawatrannya.
“Ah, tidak apa-apa. Aku biasa kok nitipkan orang ke Surabaya tanpa karcis. Bilang saja keluarga pegawai stasiun, mereka pasti mengerti.”
Kesalahan sistem yang jadi kebiasan. Nepotisme sudah jadi budaya lebih dari tujuh turunan. Tapi, sepertinya adakalanya melanggar aturan itu bisa menjadi pengalaman yang mengasikkan.
“Kira-kira berapa? Mahal ga? Kan kereta Executive”
“Kira-kirakan sama dengan biaya naik biasa saja.” Kata Bulik Pur.
“Ya sudahlah, oke”
“Kalau begitu aku ke kantor pegawai stasiun dulu.” Bulik Pur melangkah menuju kantor stasiun. Sementara sudah terdengar gemuruh kereta Argo Muria dari arah barat. Wah, ini bakal jadi pengalaman pertamaku naik kereta Executive.
Bulik Pur kembali lagi dengan seorang berseragam pegawai stasiun. Tertulis namanya, Karmijan.
“Ini masku dan anaknya. Mau ke Surabaya.” Ia memperkenalkan kami pada laki-laki itu.
“Ah, tidak, cukup sampai Bojonegoro saja.” Bapak menyela cepat. Dia bilang padaku tadi ketika Bulik Pur meninggalkan kami kalau andai memang bisa ikut kereta Executive itu, kita akan turun Bojonegoro saja, lalu naik bis ke Lamongan seperti rencana semula. Kereta Executive itu memang tidak akan berhenti menurunkan penumpang di stasiun Lamongan, tapi Surabaya. Itu berarti jika kami terus ikut sampai Surabaya, maka kami harus kembali ke Lamongan lagi. Membuang waktu dan biaya tentunya.
“Ya, Bojoneoro saja.” Ralat Bulik Pur.
“Bisa, bisa. Gampang. Ayo sekarang naik. Keretanya tidak akan berhenti lama.”
“Tapi..”
“Ah, nanti diatas saja.”
Selanjutnya kesepakatannya adalah sebagai berikut, kami akan turun di Bojonegoro dengan pembayaran Rp 25 ribu perkepala, jadi totalnya 50ribu. Tapi masih ada satu syarat lagi rupanya.
“Nanti kalau turun pakai pintu sebelah selatan. Jangan terburu-buru turun dari kereta dan keluar stasiun. Tunggu sampai semua penumpang sudah turun semua, sepi. Lalu ketika di pintu keluar dimana petugas akan meminta karcis, bilang saja. Keluarga Pak Karmijan.”
Seorang laki-laki berseragam, tentunya petugas kereta mengantar kami berjalan sepanjang gerbong untuk menunjukkan di kursi mana kami bisa duduk. Hhh, rasanya seperti tahanan yang harus mengikitu polisi, menunduk dengan rasa bersalah. Aduh, jadi tidak percaya diri aku. Yang naik kereta ini notabene pasti orang-orang dengan tingkat ekonomi menengah ke atas.
Petugas itu juga dengan ramah mempersilahkan kami duduk, seolah aku dan Bapak adalah tamu kebesarannya. Padahal begitu duduk bapak langsung mengeluh.
“Dingin…” ia merapatkan jaketnya. Tentu saja,AC menyala gempita di kereta ini. Taruhan, nanti sampai rumah dia bakal minta dikerokin.
Kereta meninggalkan Sedadi. Sepertinya akan lancar-lancar saja. Aku log in ke facebookku. Kusibukkan diri dengan membaca beberapa beberapa komen di statusku dan memberi koment di status teman. Terima kasih…………,
Entah beberapa menit kereta melaju, sepertinya kecepatannya melambat dari semula. Sepertinya bukan hanya aku yang merasa. Penumpang lain juga melongok-longok keluar jendela. Hmmm, jangan-jangan kereta mengalami kesalahan tekhnis lagi. Jangan-jangan aku memang tidak boleh pulang hari ini.
“Ada yang tertabrak.”
Terdengar suara salah satu penumpang. Kereta berjalan pelan. Kulihat orang-orang diluar sana berkerumun di sekitar rel kereta. Ternyata kereta excecutive yang pertama tadi telah memakan korban. Ada sesuatu yang ditutupi kertas Koran diantara orang-orang itu. Aku memalingkan muka.
“Untunglah kita tadi tidak naik kereta tadi.” Kata bapak.
‘Kira-kira kita sudah sampai dimana ini Pak?”
“Baru akan nyampai Gambrengan.”
“Oh..”
“Lapar Va.”
“Minta menu pada si mbak-mbak itu.” Dari tadi si mbak-mbak berseragam rapi sesekali lewat untuk melayani kebutuhan penumpang.
“Wah, tidak kuat bayar harganya. Jangan-jangan mahal. Nanti saja di stasiun”
Kereta melaju kembali. Di depan sana stasiun Gambrengan. Kereta berhenti. Bapak keluar, tak lama kemudian sudah kembali dengan dua bungkus nasi pecel.
“Kamu tidak makan?” Tanya Bapak, aku Cuma menggeleng. “Penjualnya mengira kita-kita ini orang kaya. Masa harga nasi pecel bungkus saja 10.000.-.”
Aku tertawa lebar.
“Ya benar saja. Kalau kita bisa naik kereta ini kan berarti kita kaya.”
“Alhamdulillah.”
Bapak menikmati pecelnya. Kereta mulai melaju lagi.
“Siapa tadi nama petugas stasiunnya?” Tanya Bapak..
Blank! Tiba-tiba aku lupa.
“Ehm… Surijan? Bukan, Karjan?” bukan juga. “Lupa Pak.”
“Lupa gimana? Nanti kita harus ngomong gimana kalau keluar stasiun? Aduh!”
“Yah, beneran lupa!”
“Cepat SMS Mat.” Mat anak Bulik Pur, dia pasti tahu. Segera aku menulis SMS.
Siapa nama petugas stasiun yang tadi ditemui Bulik Pur, tolong tanyakan.
Sending message……………..sending failed!
Hah! Sekali lagi. Sending message………………sending failed!
“Ga ada sinyal! Coba pakai ponsel bapak saja”
Bapak sibuk mengotak-atik ponselnya. Wajahnya tegang, lalu geleng-geleng kepala.
“Tak ada sinyal juga.”
Aduh, gimana ini???
“Coba kamu ingat-ingat siapa namanya, Pak Jan siapa tadi. Kalau sampai kita tidak bisa mengatakan nama lengkapnya, bisa-bisa kena denda kita!”
Aku memejamkan mata, berpikir keras menggali memori. Sarijan. Bukan. Turjan, bukan, Marijan juga bukan. Aduh!!!!
Sambil berpikir masih terus kucoba mengirim SMS pada Mat. Tapi tetap saja gagal. Aku tegang, bapak tegang.
Kereta terus melaju. Aku masih terus mengingat-ingat. Masih terus juga mencoba mengirim SMS. Setengah putus asa.
Sending message………………….. message sent! Message delivered!
“Bisa! Sudah bisa!” seperti mendapat rejeki aku hampir berteriak.
“Sudah dibalas?”
“Belum. Tapi sudah delivered”
Menunggu itu menjemukan! Kukirim SMS itu sekali lagi, delivered lagi. Tapi belum ada balasan dari Mat.
“Sudah hampir mendekati Bojonegoro.” Tukas Bapak.
“Mat sibuk mungkin.” Mat seorang supir, bias jadi ia tak sempat membalas SMS kalau sedang menyetir. “Atau jangan-jangan ponselnya ketinggalan di rumah. Apa tidak ada orang lain lagi yang bisa dihubungi?”
“Tidak ada. Yah, mungkin nasib kita. Harusnya memang tidak naik kereta ini ya ngeyel naik. Sekarang terima saja resikonya.” Bapak memeriksa dompetnya, “Semoga saja uangnya masih cukup membayar dendanya.” Nada putus asa jelas terdengar. Saat itu ponselku bergetar. 1 message received, Mat.
Isinya singkat saja, Pak Karmijan
“Karmijan! Susah amat ingatnya!” lega kuhempaskan punggung. Dari tadi aku ngantuk. Hanya karena sebuah nama, Karmijan.
Di Stasiun Bojonegoro. Kereta berhenti.
“Tunggu sampai penumpang habis. Lewat pintu selatan.”
Aku dan Bapak mematuhi perintah itu. Kami jadi penumpang paling akhir yang keluar. Petugas pemeriksa karcis hanya mengangguk kecil ketika Bapak dengan hati-hati menukas,
“Keluarga pak Karmijan.”
Keluar dari stasiun, rasanya aku bias bebas menghirup udara segar lagi. Dengan becak aku dan bapak menuju terminal Bojonegoro. Dari sana kita naik bis menuju Lamongan. Sampai rumah aku langsung melampiaskan hasratku. Alhamdulillah. Home sweet home.
Sambil menikmati kegiatanku, aku terbayang wajah Pak Karmijan dan Bulik Pur. Terima kasih Pak Karmijan.

Welcome Back to Neverland!!!

Haiaaaaaaaaaaaaaaa................ setelah sekian lama mati, bener-bener mati gaya! blog ini pertama kali Agustus 2010 dan sekarang adalah f...