Rabu, 15 September 2010

HARI HARAN DAN UANG KEREWENG

Hari haran adalah seorang pelajar yang pandai tetapi miskin. Ia ingin ke ibukota untuk mengikuti ujian, tapi ia tak punya uang. Ia mencoba mencari pekerjaan kesana kemari.Dalam perjalanan, ia melihat seorang lelaki tergeletak di jalan sedang mengerang kesakitan. Laki-laki itu terluka.
“Tolong aku anak muda” rintihnya kesakitan
“Apa yang terjadi pak?”
“Aku dirampok, aduh!” setelah mengucapkan kata itu, laki-laki itu pingsan. Hari haran membawanya ke rumah dan merawatnya hingga sembuh. Laki-laki itu bernama Krisnamurti, ia seorang pengusaha bakpau yang terkenal di kota. Setelah sembuh, ia berniat pulang. Ia tahu Hari Haran yang baik hati itu sedang membutuhkan pekerjaan, ia hendak mengajaknya ke kota bersamanya.
“Terimakasih Hari Haran. Sebagai ucapan terima kasihku, ikutlah aku ke kota, aku akan memberimu pekerjaan menjaga salah satu toko bakpauku.”
Maka berangkatlah Hari Haran ke kota bersama Pak krisnamurti. Dia diberi amanat menjaga salah satu cabang toko bakpaunya yang baru saja berdiri. Ternyata nama Pak krisnamurti sudah tersohor dimana-mana sehingga orang-orang tidak meragukan kualitas bakapau yang dijualnya.
Tapi karena toko Hari haran masih baru, maka pembelinya belum terlalu banyak. Hari haran gencar berpromosi dan ramah melayani pembeli yang dating. Ia selalu tersenyum meski ada pembeli yang cerewet. Orang-orang jadi suka dengan hariHaran dan selalu membeli bakpau di tokonya. Bahkan orang yang dulunya tidak suka dengan bakpau jadi penasaran membeli. Toko Hari Haran semakin hari semakin ramai pembeli.
Pak krisnamurti senang sekali memiliki karyawan seperti hari Haran. Pemuda itu tak hanya cermat dan ulet dalam berdagang, ia pun jujur. Tak hanya itu, ia juga bersemangat meraih cita-citanya. Jika siang hari ia sibuk di took, maka malam hari ia gunakan untuk membaca buku. Pak krisnamurti juga tahu hari Haran selalu menabung uangnya dan tidak berfoya-foya membeli sesuatu yang tak ada gunanya.
Tapi saying, Negara lalu dilanda krisis moneter. Semua harga naik, BBm naik, sembako naik. Orang-orang jadi hemat berbelanja. Took bakpau hari Haran pun terkena dampaknya. Pembeli berkurang. Tiap hari jumlah bakpau yang dijual jumlahnya dikurangi, tapi tetao saja ada sisa, akhirnya mubadzir dan basi.
Suatu hari, Hari Haran sedang terkantuk-kantuk di tokonya yang sepi ketika dating seorang nenek dengan cucunya yang sedang menangis.
“Apakah kau Hari Haran?”
“Iya nek, kenapa?”
“Kata orang kau baik hati.”
“Ah nenek, biasa saja. Jangan memujiku seperti itu, nanti aku jadi sombong. Allah tidak suka manusia yang sombong. Apakah nenek mau membeli bakpau?” Tanya Hari Haran.
“Ya, cucuku ingin sekali makan bakpau, tapi aku tidak punya uang.” Kata nenek itu memelas, “Maukah kau memberinya sebuah saja.”
Tanpa menjawab, Hari Haran segera membungkuskan 5 buah bakpau dan memberikannya pada cucu nenek itu.
“Nah adik kecil, terimalah. Bakpau ini enak lho, ada yang isi kacang hijau, coklat, kehu, kau pasti suka.” Katanya pada cucu si nenek,
“Tapi, tapi tidakkah itu terlalu banyak? Dengan apa aku harus membayar?” nenek itu ketakutan.
“Nek ini tidak usah bayar, anggap saja ini hadiah dariku utnk adik kecil ini.”
“Apa kau tidak takut akan dimarahi pemilik toko?”
“Tidak, aku akan bilang akulah yang membeli bakpau itu.”
“Kalau begitu aku bayar pakai ini saja.” Nenek itu mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya, ternyata sebuah uang dari pecahan genteng yang dibentuk bulat, biasanya disebut uang kereweng. “Anggaplah ini hadiah dariku, simpan baik-baik.”
Hari Haran Cuma tersenyum, tapi diterimanya uang kereweng itu. Si nenek segera mengajak cucunya pergi. Sepertinya cucunya sangat senang mendapatkan bakpau yang diinginkannya. Hari Haran menyimpan uang kerewengnya dalam tabungannya.
Ternyata keesokan harinya nenek itu datang lagi bersama cucunya. Lagi-lagi ia mengatakan ingin membeli bakpau tapi tak punya uang. Hari Haran dengan senang hati memberinya Cuma-Cuma dan nenek itu membayarnya dengan uang kereweng. Hari Haran sudah senang, karena nenek itu selalu berdo’a untuknya,
“Semoga Allah membalas budi baikmu Hari,”
“Amin.”
Hingga terkumpullah uang kereweng itu dalam tabungan Hari Haran. Sampai akhirnya suatu hari tibalah waktu ujian dan Hari Haran harus pergi selama beberapa hari. Dengan berat hati ia memberitahu si nenek kalau besok ia tidak berjualan.
“Nek, mulai besok aku tidak berjualan, sementara akan digantikan orang lain, aku harus ikut ujian.”
“Tapi apakah aku masih bisa membeli bakpau dengan uang kereweng?” kata nenek sedih.
“Jangan nek, penjualnya bisa marah. Begini saja, ini aku ada uang sedikit. Nenek pakai saja uang ini untuk membeli bakpau selama aku pergi.” Hari Haran menyerahkan senbagian tabungannya pada nenek. Nenek menerimanya dengan gembira. “Oh ya nek, doakan aku lulus ujian ya.”
“Tentu Hari, aku akan mendoakanmu.”
Maka berangkatlah Hari Haran ke tempat ujian dilaksanakan. Dia harus berada 2 minggu lamanya disana. Pak Krisnamurti memberinya sedikit uang sebagai bekal. Semula Hari Haran menolaknya, tapi Pak Krisnamurti bersikeras. Ia berharap Hari Haran bisa lulus dengan baik. Sementara Hari Haran menitipkan tabungan uang kerewengnya pada Pak Krisnamurti.
Seminggu mengikuti ujian, tiba-tiba ada kabar buruk. Toko bakpau pusat milik pak Krisnamurti terbakar hingga tak bersisa. Pak Krisnamurti jadi sedih dan sakit karena memikirkan usahanya yang bangkrut. Mendengar hal itu Hari Haran jadi sedih. Ia ingin menengok pak Krisnamurti tapi ia belum selesai ujian.
Ketika ujian selesai ia bergegas ke rumah Pak Krisnamurti. Ternyata penyakitnya begitu parah sehingga ia hanya bisa tergolek di tempat tidur. Demi pengobatannya, Pak Krisnamurti bahkan menjual beberapa tokonya. Pak Krisnamurti menjadi sangat miskin sekarang.
Hari Haran sangat ingin membantu, tapi ia juga sudah tak punya uang. Tabungannya habis untuk membayar ujian. Padahal ia sudah menganggap Pak Krisnamurti seperti orang tuanya sendiri. Sedih rasanya melihatnya terbaring sakit tak berdaya.
Hari Haran diberitahu temannya kalau ada seorang tabib manjur di negara tetangga yang bisa mengobati segala macam penyakit. Ia memberitahu pak Krisnamurti tentang itu.
“Hari, sebenarnya aku juga telah mendengarnya. Aku memang berniat kesana, tapi aku tak punya uang. Aku ingin memakai uangmu, tapi kau tak ada. Jadi aku menunggumu pulang untuk minta ijin.”
Hari Haran terkejut, seingatnya ia sudah tak punya uang lagi.
“Tapi saya tak punya uang pak.”
“Apa kau lupa Hari, sebelum kau pergi ujian, kau menitipkan tabunganmu padaku. Aku masih menyimpannya. Bolehkah aku meminjamnya untuk biaya berobat? Jika aku sehat nanti aku akan mengembalikannya”
Hari Haran tersipu dan bingung. Ia ingat ia memang menitipkan tabungannya dari kaleng bekas susu pada Pak Krisnamurti, tapi isinya bukan uang, tapi kereweng pemberian nenek yang datang meminta bakpau.
“Tapi…”
“Tolonglah Hari, aku membutuhkan bantuanmu. Aku menyimpan tabunganmu di bawah kolongku, ambillah.”
Hari Haran mengambil kaleng dari bawah kolong tempat tidur Pak Krsinamurti dengan bingung. Ia khawatir Pak Krisnamurti akan kecewa jika tahu kalau didalam kaleng itu hanyalah kereweng dan bukan uang.
Hari Haran dengan gemetar mengambil kaleng tabungannya yang sepertinya lebih berat disbanding ketika dia menyerahkannya pada Pak Krisnamurti dulu. Sambil menahan nafas ia membuka tutup kaleng tabungannya, dan langsung terkejut melihat isinya. Bukan uang kereweng, tapi koin-koin emas yang berkilauan.
“Aku heran kau menabung begitu banyak.” Kata Pak Krisnamurti. Hari haran hanya diam. Dalam hati ia mengucap syukur pada Allah yang maha kuasa. Dia mengganti apa yang diberikan Hari Haran pada nenek peminta bakpau.
“Ya Pak, semoga uang ini bias dipakai berobat dan bapak bisa sembuh seperti sedia kala.”
Akhirnya dengan koin emas tersebut Pak Krisnamurti berobat ke tabib. Ia kembali sembuh dan bias merintis kembali usaha bakpaunya yang bangkrut. Sementara Hari Haran lilus ujian dengan nilai terbaik dan diangkat menjadi seorang pegawai bank di ibukota.
Namun sayang, ketika hari Haran kembali ke tokonya yang dulu untuk mencari keberadaan nenek peminta bakpau, ternyata tak seorangpun mengaku mengenalnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome Back to Neverland!!!

Haiaaaaaaaaaaaaaaa................ setelah sekian lama mati, bener-bener mati gaya! blog ini pertama kali Agustus 2010 dan sekarang adalah f...