“Ini namanya senjata makan tuan!”
“Tenanglah, semua pasti ada solusinya”
“Tak ada solusi, yang ada cari mati!”
“Slow down key, berpikir jernih”
Klak klok, klak klok, Ku on/off kan lampu belajarku, bohlam menyala padam, bolak-balik, sebolak balik hatiku berpihak, jujur atau bohong sih?
Kebohongan tak akan menang, sekali kau berbohong, maka kau harus menutupinya dengan kebohongan yang lain. Kebohongan seperti tabungan, sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit.
Tapai kalau jujur, Airin bisa sedih karena gagal jadian sama Fian. Harus bohong demi kebaikan, demi persahabatan.
Tak ada namanya berbohong demi kebaikan, dan persahabatan yang dinodai kebohongan tidak akan bertahan lama.
Aiih…..pusing! bohong atau jujur sih?
Aku bangkit, harus ada yang aku lakukan, dan itu bukan bermain bohlam. Kumasukkan laptop ke dalam ransel. Kutinggalkan kamar dengan harapan di luar sana aku akan mendapatkan pencerahan.
“Ma, aku nyari hotspot di alun-alun” pamitku pada mama yang lagi dipijit Mbak Ruti.
“Jangan sore-sore pulangnya, papa mengajak kita makan malam di luar.”
“Sip bos!” masih jam 3 sore, paling tidak jam 5 aku pulang.
Sejak di alun-alun bisa akses hotspot, tiap sore di sana selalu ramai orang-orang yang ingin memanfaatkannya. Ada sebuah tempat favorit, bangku batu di bawah pohon keres di sudut barat daya, biasanya aku di situ, bersama beberapa orang asing lainnya. Tidak saling kenal, hanya duduk diam menatap monitor masing-masing tersenyum tertawa sendiri, asyik berkelana di dunia maya, tapi kelihatannya sore ini aku sendirian saja.
Baru saja kubuka laptopku, ponselku berdendang, Airin?
“Key, dimana?”
‘Ehm…” aku celingukan kiri kanan, jangan-jangan Airin ada di sekitarku, “Lagi jalan sama Dewa.” Huff, kupastikan tak ada dia, Bisa gawat kalau dia memergoki di sini.
“Dimana?”
“Ada dech, mau tahu aja” kupastikan juga suaraku tenang, tak ada tanda-tanda kebohongan.
“Takut aku bergabung ya?”
“Ssst.. aku sedang membicarakan acara kita.”
“Oooh….”
“Dia sepertinya ga mau nih”
“Ya udah, selamat merayu saja ya, bye.”
“Bye….”
Telpon ditutup, lega rasanya, tapi kulihat gelombang kebohonganku telah berubah jadi tsunami yang siap menelanku.
“Aku sudah suka dia sejak kelas X, aku tidak menyangka dia juga menyukaiku,” Airin sangat bahagia ketika Fian menampakkan sinyal-sinyal asmara. Cowok berambut cepak itu mengajak dinner nanti malam, tapi secepatnya raut Airin berubah sedih. “Tapi aku tidak mau kamu merasa terabaikan. Kita kan punya kesepakatan,” kalimat Airin memang bernada sedih tapi sebenarnya akulah yang paling sedih. Kesepakatan itu kita buat sejak SMP, jika salah satu belum punya pacar, maka yang lainpun tidak boleh punya pacar. Itu sebenarnya tak adil untuk saat ini, untuk Airin. Dia cantik, elegan, semua cowok mengincarnya, sedang aku cuma si gendut, kutu buku, tidak ada menariknya. Terbukti selama ini aku jadi penghalang Airin untuk menerima salah satu cowok pengagumnya. Betapa jahatnya aku!
“Kesepakatan itu tidak berlaku lagi.”
“Tidak Key, kamu tidak boleh berkorban demi aku.”
“Maksudku, kesepakatan itu kita akhiri saja. Sebenarnya aku juga sedang dekat dengan seseorang.”
“Apa?” Airin mendelik. “Kamu sudah jadian? Jahat kamu!”
“Belum baru PDKT. Aku ingin cerita padamu, tapi waktunya belum tepat, tapi sekarang sepertinya inilah saat yang tepat.”
“Akh, nakal kamu!” Airin meninju pundakku, dia tidak pernah tahu di dadaku baru saja timbul sebuah tunas kebohongan, “Siapa dia, teman sekolah kita juga?”
“Tidak, teman di facebook,” tunas itu mulai berduri, menusuk jantungku.
“Dunia maya?” semangat Airin hilang, dia memang paling benci hobiku yang satu itu, “Pacar cyber? Kenapa sih….”
“Tidak, kita sudah ketemuan kok!”
“Wow, great! Cakep ga?”
“Ya iyalah….”
“Ya sudah kalau begitu besok ajak dia makan malam barengan aku dan Fian.”
“Tapi….” gawat!
“Double date!”
“Tapi…..” parah!
“Tapi apa?” Airin menatapku tajam, “Jangan bilang kau cuma bohong, ku berkhayal punya pacar, sengaja hanya untuk membuatku senang dan tidak merasa bersalah jika aku jalan sama Fian!” semburnya telak, “Aku benci teman pembohong!”
“Tidak, aku tidak bohong.”
“Ya, sudah. Sampai nanti malam,” Airin menciumku tepat bel berbunyi, tanda istirahat kedua berakhir. Dia berlari ke kelasnya XI IPS2 dengan semangat penuh cinta. Sebaliknya, dengan gontai aku kembali ke kelasku, XI IPA1.
Double date! Ini gila. Percakapan tadi siang itulah yang membuatku resah tiada kepalang. Harus kutemukan si Dewa itu.
Jujur saja, memang ada nama Dewa di friendlist facebookku, tapi Dewa itu entah siapa aku tidak tahu. Aku mengenalnya entah di mig33, nimbus, atau mxit, aku bahkan lupa. Aku asal comot namanya tadi karena sesaat sebelum Airin datang kita sedang chat di Ebuddy.
Apa aku harus mengontrak Dewa yang itu untuk jadi pacar? That’s impossible! Aku bahkan tak yakin namanya benar-benar Dewa seperti pengakuannya, apa ia masih muda atau sudah jadi om-om kumisan (hii! parah!).
Tapi bagaimana kucari Dewa, pacar untuk 2 jam saja! Tuhan beri aku jalan, ini demi kebaikan persahabatan.
+ Bagaimana kalau mengontrak salah satu teman chatting yang sudah pernah kopi darat?
- Tidak bisa. Nanti dia pasti siar-siar di facebook kalau aku mencari pacar sewaan, malu dong!
+ Bagaimana kalau teman SMP?
- Tidak mungkin, temanku SMP adalah teman Airin juga, mereka pasti saling kenal.
+ Bagaimana kalau cowok di sebelahmu?
(di sebelah ada cowok lagi browsing, baru datang 5 menit yang lalu)
- Tidak, tidak kenal.
+ Kamu parah, pembohong yang payah!
- Ya!
“Kenapa mbak?” cowok itu kaget, rupanya “ya” kuserukan tantang.
“Tidak apa-apa, maaf,” nyengir aku jadinya. Buru-buru kututup laptopku, sebaiknya aku segera pulang lalu tidur, sebelumnya aku telepon Airin, pura-pura sakit mendadak.
+ Dasar pembohong!
- Biar saja!
“Ssst…. diam!” tiba-tiba ada yang menggamit lenganku begitu aku berjalan 2 langkah. Lalu setengah menyeretku mengikuti langkahnya. “Tenang, aku bukan orang jahat. Aku cuma mau minta tolong, sebentar saja.” Masih bengong tidak tahu apa maksudnya dengan minta tolong, aku menurut. Habisnya ketika kulirik sekilas, ia seorang cowok….. mirip…. mirip….
“Jadi ini yang namanya Toni?
Toni? Maaf, namaku bukan Toni… eh, eh, dia tidak sedang berbicara denganku kan? Tapi pada sepasang cowok cewek yang sepertinya sedang bermesraan. Si cewek kelihatan sangat terkejut dan cowoknya (pastinya si Toni) cuma heran.
“Revan? Kamu di sini? Kamu sudah pulang? Kapan?” cewek itu salah tingkah. Ooo… sepertinya aku paham. Cewek itu adalah pacar Revan, cowokku- cowok yang sedang menggandengku mesra, tiba tiba tergianf di benakku, Oo kamu ketahuan, pacaran lagi…. (versi dangdutnya Uut Permatasari).
“Ya, dan sepertinya aku mendapatkan hal yang tidak menyenangkan.”
“Tapi, Re, aku bisa jelaskan, ini tidak seperti yang kamu bayangkan.” Huu, klise, menjiplak kata-kata di sinetron. Ah, ga bisa lebih kreatif dikit apa?
“Maaf, Lira.” Oh, namanya Lira, “Aku sudah punya dia. Kamu salah kok kalau menilai aku bersih. Aku juga sama sepertimu. Aku juga sama sepertimu,” Revan memandangku mesra, sementara Lira memandangku dengan tatapan yang seolah berkata: Apa tidak salah memilih cewek gendut macam itu? Masa aku dibandingkan sama dia?
Hem, harusnya Lira sadar aku membalas tatapannya: Heh, cewek gendut pun punya hak punya pacar tampan seperti Tomy Kurniawan (nah, aku baru ingat wajahnya mirip siapa).
“Sebaliknya kamu jangan ganggu dia lagi,” tegasku.
“Ya, baiklah Lira. Kita selesai, ayo kita pergi”
“Rey! Rey!” masih kudengar teriakan Lira, tapi sepertinya Reyvan tak peduli. Ia lagi-lagi setengah menyeretku, dalam diam. Belum sampai cukup di situ. Karena Lira terus mengejar, ia memaksaku naik mobilnya dan segera tancap gas meninggalkan tempat itu. Aku duduk diam seperti tergendam.
“Thanks ya. Kamu mau menolongku,” 10 menit setelahnya baru dia angkat bicara. Aku tahu dia sedang terluka.
“Cewek begitu memang kudu diberi pelajaran,” hiburku “Dia tidak pantas buatmu,” ehem… dengan kata lain: akulah yang pantas buatmu, weleh.
“Kutraktir makan ya sebagai rasa terima kasih. Namaku Revan.”
“Sudah tahu. Aku Keyla.” Kami berjabatan. Tiba-tiba aku dapat ide. “Enggak, aku tidak mau makan. Aku minta tolong saja. Bisa ga?”
“Apa?”
“Kamu…..”
“Hah?”
Double date itu, candlelight dinner. Airin bertanya macam-macam tapi sepertinya Revan cukup mahir berperan seperti Dewa. Namun aku tak mau menyiksanya lama-lama, lagi pula Revan hanya punya waktu 1 jam untukku. Itu sudah sangat lama dibanding aku cuma membantunya beberapa menit.
Sebelum makanan utama datang, aku buru-buru pamit pada Airin dan Fian. Alasannya, aku dan Dewa mau nonton KCB 2”.
“Maaf, ya,” tukas Dewa-Revan-penolongku sopan. Taruhan Airin pasti heran karena aku bisa menggaet cowok secakep Revan. Tapi sepertinya dia sudah terlihat nyaman dengan Fian.
Tapi tentu saja, tak ada KCB2. Adanya kami berpisah, di perempatan jalan dia menurunkan aku dari Avansanya.
“Thanks ya, pacar sewaan” aku melongok dari balik jendela mobil. Ia tidak turun.
“Sama-sama pacar sewaan, kalau butuh aku lagi telepon aku”
“Kurasa tidak. Selamat jalan.” Kulambaikan tangan.
“Kalau begitu aku saja yang menelponmu”
“Kau kan tidak punya no ponselku.”
Kita tertawa berbarengan.
“Ah, ya, Ya sudahlah selamat tinggal
Avansa itu meninggalkanku sendiri. Aku tersenyum, aku jomblo lagi. Besok aku harus jujur pada Airin, aku putus dengan Revan. Aku Cuma jadian satu jam.
Senin, 13 September 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Welcome Back to Neverland!!!
Haiaaaaaaaaaaaaaaa................ setelah sekian lama mati, bener-bener mati gaya! blog ini pertama kali Agustus 2010 dan sekarang adalah f...
-
Puan kau curi rasa pada harap gendam loka... lunglai raga pejam wajahmu menyinai, menyibak selimut hati rapat menjejat kala itu.... namu...
-
Kutolak ajakan Hanh menari malam ini, kukatakan padanya seorang teman dari masa laluku ingin bertemu aku, namanya Raden Ayu Cahya Berliani, ...
-
“Hah, hilang?” sapto jelas sangat kaget. Ia belum sempat duduk saat Kirani menyampaikan berita Kinanti. “Bagaimana bisa? Nung kemana?” “Pul...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar