“Hah, hilang?” sapto jelas sangat kaget. Ia belum sempat duduk saat Kirani menyampaikan berita Kinanti. “Bagaimana bisa? Nung kemana?”
“Pulang ke Madura, baru balik seminggu kedepan.”
“Lalu? Anti kamu tinggal sendirian di rumah?”
Kiranin mengangguk,
“Kamu sudah hubungi papa mamamu?”
“Tidak! Aku piker Anti diajakin tante Riri, tapi ternyata tidak. Papa mama biasanya telpon setelah isya’.”
“Telpon saja sekarang!”
“Gila, no way! Mereka bisa panic, dan berbalik menyalahkan aku!”
“Jangan-jangan dia diculik!”
“Itu juga yang kupikirkan.”
“Bisa gawat Ki.” Sapto memanggil nama panggilan asli Kirani, pertanda dia serius.
“Makanya aku juga bingung.”
Kirani mengangguk. Mereka berdua duduk di ruang tamu, sama-sama gelisah. Kirani memainkan ujung bantal sofa, Sapto menggaruk kepala.
“Rasanya aku tahu dia berada dimana!” tukas Sapto memecah hening.
“Dimana”
“Ayo!” Sapto bangkit. Kirani mengikuti langkah cowok itu ke lantai dua. Karena dia akrab dengan Kinanti dan Kinanti terlihat menyukai Sapto, Papa dan mama tidak keberatan Sapto sering main ke rumah. Malah mereka menganggap Sapto kakak kedua bagi Kinanti selain Kirani.
Sapto berhenti di depan kamar tidur Kinanti. Tangannya sudah memegang gagang pintu, namun belum membukanya.
“Dia tidak di kamar ini Sap.”
“Kamu tahu, Kinanti suka sekali bersembunyi di almari kamar bermain?”
Kirani menggeleng. Jadi malu, seolah Sapto lebih mengenal Kinanti daripada dia sendiri.
“Tapi Kinanti lebih suka disini,” Kinanti memang punya dua kamar, satu khusus untuk bermain, satu untuk tidur. “Dia lebih suka di kamarnya, kamu tahu rak boneka?”
Kirani mengangguk.
“Dinding boneka.” Ralatnya. Karena memang bukan rak, tapi dinding yang sengaja dibentuk seperti loker dengan kotak-kotak terbuka tanpa pintu dan dicat sewarna dinding. Tiap kotak berisi boneka raksasa berbagai tokoh kartun kesukaan Kinanti. Tedy, Garfield, Winnie… entah apa lagi. Kirani tak tahu, tak terlalu suka.
“Kadang, Anti suka sekali duduk di salah satu kotak rak, berpura-pura jadi boneka.”
“Hah?” kirani melongo. Ia mengingat-ingat, apa tadi sempat meneliti dinding boneka.
“Kamu sudah mengeceknya?”
“Engg, rasanya tidak deh.. tapi masa Anti begitu?”
“Namanya juga Anti. Ia itu unik, tahu ga sih?”
Pintu dibuka. Pandangan Kirani langsung menuju dinding boneka. Mencermati satu persatu kotak rak, sepertinya tak ada tanda-tanda Anti.
“Tak ada,” tukasnya lirih, kecewa.
“Ya, tak ada,” ulang Sapto.
Brak!
Reflex keduanya bersitatap. Ada suara benda jatuh diluar.
“Anti!” desisnya sambil buru-buru berlari keluar. Sapto menyusul di belakangnya. seolah ada yang menuntum, Kirani menuruni tangga, langsung menuju ruang makan. ia yakin suara yang didengarnya berasal dari sana.
Dan, ia menemukan sumber suara itu, sekaligus penciptanya.
Kinanti.
Dia berdiri kaku disana, di depan kulkas. Memandangi guci keramik wadah payung di sebelah kanan kulkas. Guci yang tak utuh lagi, hamper tak berbentuk. Pecah berantakan, potongan keramik berserakan di lantai. Di tangan Kinanti masih tergenggam sebuah paying warna merah muda.
“Anti.” Hati-hati Kirani mendekat. ia tahu ia tidak boleh berteriak pada Kinanti, ia bisa kaget dan marah. Jika sudah begitu, hanya Nung yang bisa menyembuhkannya.
Sapto pun tahu aturan itu, sehingga ia menahan diri, hanya berdiri memandang.
“Anti.” Kirani memanggil lirih. Ia disamping Kinanti sekarang, tangannya terangkat hendak menyentuh pundak Kinanti. aturan kedua, harus menyentuhnya dulu sebelum mengajaknya bicara. “Kamu dari mana?” Dari pundak, tangan Kirani menuju pipi Kinanti. kirani membelai sepasang pipi Kinanti lembut, mencoba mendapatkan perhatiannya.
Sepertinya ia berhasil. Perlahan Kinanti mengalihkan tatapannya dari guci ke Kirani. Sapto menahan nafas. Tiba-tiba ia merasa ada yang tak beres.
Kinanti memandang Kirani, sepasang wajah yang hamper sama. Tapi sebenarnya ia tak pernah memandang. Tatapan matanya jauh menembus tubuh Kirani, bahkan seolah menembus dinding di belakang Kirani. Seolah tak pernah ada Kirani di hadapannya.
Tiba-tiba, Kinanti mendengus. Nafasnya memburu, dan sedetik kemudian tak terduga ia membuang payungnya dan langsung dengan dua tangannya ia mendorong tubuh Kirani dengan liar seolah hendak menyingkirkannya. Kirani terpekik, karena tak menduga gerakan Kinanti. ia tak punya persiapan sehingga ia terjengkang dengan punggung mencium lantai.
“Kira!” lanjutan teriakan Sapto terpaksa ditelan mentah-mentah karena Kirani yang masih terlentang di lantai meringis kesakitan, masih sempat meletakkan telunjuknya dibibir, pertanda Sapto masih harus diam. Tanpa bersuara, ia segera mendekati Kirani dan membantunya berdiri.
Sementara nafas Kinanti masih memburu, ia menuju meja makan. matanya kosong. Ia duduk di salah satu kursi. Tangannya saling meremas.
“Sakit Ran?” bisik Sapto. Tapi Kirani sama sekali tak mendengar, yang jadi obyek terpenting sekarang adalah Kinanti yang duduk manis di kursi. Tangannya terlipat rapi di meja, tidak saling meremas lagi, pertanda dia tidak gelisah lagi. Hanya kakinya masih terjuntai bergoyang-goyang ke depan ke belakang. Kepalanya mengangguk-angguk dengan bibir menggumamkan sesuatu yang ga jelas didengar. Matanya menembus tembok.
Tiba-tiba Kirani teringat sesuatu.
“Sap, ini salahku.”
“Apa?”
“Anti marah padaku. Ia kelaparan,”
Sabtu, 26 Februari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Welcome Back to Neverland!!!
Haiaaaaaaaaaaaaaaa................ setelah sekian lama mati, bener-bener mati gaya! blog ini pertama kali Agustus 2010 dan sekarang adalah f...
-
Puan kau curi rasa pada harap gendam loka... lunglai raga pejam wajahmu menyinai, menyibak selimut hati rapat menjejat kala itu.... namu...
-
Kutolak ajakan Hanh menari malam ini, kukatakan padanya seorang teman dari masa laluku ingin bertemu aku, namanya Raden Ayu Cahya Berliani, ...
-
“Hah, hilang?” sapto jelas sangat kaget. Ia belum sempat duduk saat Kirani menyampaikan berita Kinanti. “Bagaimana bisa? Nung kemana?” “Pul...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar