Sabtu, 26 Februari 2011

DUA

Tch Enki duduk di singgasananya yang terbuat dari emas murni berbentuk spink dengan roda luncur yang memungkinkannya bergerak kesana kemari tanpa harus berjalan. Ia berada di tengah ruangan, mengamati dengan seksama satu persatu tayangan di monitornya.
Di belakang sang penguasa, jendral Gootecth berdiri dengan sikap siap. Ia harus menjawab semua pertanyaan yang mungkin akan diajukan.
Tch Enki terlihat sangat serius memakukan sepasang matanya pada layar utama yang berukuran 4x4 meter tersebut. Sebuah adegan miris sebuah tsunami menghantam sebuah kepulauan di Negara Indonesia. Jendral Gootech sendiri yang merekam kejadian itu tangal 26 desember 2004 lalu dengan teleskop Humbtect-nya. Tch Ink memang memerintahkannya mengawasi bencana-bencana alam yang terjadi di mantan daerah kekuasaanya itu.
“Berapa manusia yang mati saat peristiwa ini, Jendral.”
“Lebih dari 200.000 jiwa, Tch Enki.”
Adegan berubah. Remuk redam kota Jogjakarta setelah gempa tahun 2006. Masih di Indonesia.
“Lalu, gempa ini?”
“Hampir 6000 jiwa.”
“Mereka yang menyebabkan kerusakan itu sendiri. Mereka tak mencintai alam. Dan alam yang terluka akan membalas dendam. Mereka tidak berpikir berapa banyak alam telah memberi mereka, dasar manusia serakah”
Jendral Gootech tak menjawab. Andai ia bisa meyakinkan kalau masih ada segelintir manusia yang mau perduli dengan alam, mungkin atasannya itu akan berpikir ulang untuk kembali ke bumi.
“Kita akan secepatnya kesana.” Tukas Tch Enki penuh kemenangan. “Dan mereka yang tak berhak atas bumi harus segera pergi.”
“Mereka adalah keturunan para atlantea yang tidak ikut mengungsi. Mereka adalah bagian dari kita.” sanggah Gootech.
“Tentu saja mereka para atlantea, tapi mereka adalah ras pekerja! Kau lupa Goo, mereka hanyalah hasil dari proyek genetika Ninharsag?”
“Ini masih 2011 Tch. Orbit Nibiru baru akan mendekati bumi akhir tahun 2012”
“Tinggal beberapa saat lagi. Aku sudah tak sabar. Aku rindu dengan bumi.”
“Tentu, saya juga rindu.”
Tch Enki menoleh, mencoba mengenali ketulusan kata-kata bawahannya lewat rona wajahnya, tapi Gootecth bergeming. Malah sang jendral berbalik memandangnya dengan tajam. Tch Enki segan. Ia tak mau berdebat dengan salah satu orang terjenius di kerajaan ini. Nibiru membutuhkan orang-orang semacam dia, jangan membuatnya berubah pikiran. Ia membuang kecurigaanya jauh-jauh.
“Tengkorak kristal masih aman di tempatnya?”
“Ya.”
Jenderal Goo menuju hologram kepala. ia menyentuhkan telunjuk kanannya di sana dan disini, seperti mengetik sebuah password. Hologram itu berubah bentuk menjadi peta bumi. Di beberapa bagian, muncul tanda merah berpendar. Itulah sinyal para tengkorak Kristal yang sudah diketemukan manusia bumi. Mereka aman bersama pemiliknya kini, entah esok. Karena Tch Enki sudah memutuskan akan kembali memerintah budak-budak itu, seperti yang pernah dilakukan nenek moyangnya ribuan tahun lalu, para Annunaki.
“Beberapa dari kita telah kususupkan diantara manusia, bahkan beberapa pemilik tengkorak itu adalah orang kita. kita tinggal menunggu waktu saja untuk menemukan tengkorak ke 13.”
“Kau sangat bertanggung jawab atas tugasmu Goo.”
“Saya hanya menjalankan tugas.”
Tch Enki mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Pembicaraan dengan Gootech selalu dalam suasana resmi, dan sepertinya ia terlalu bodoh jika harus selalu bertanya padanya, padahal ia yang pemimpin, bukan Gootech. Ia paham, Goo tak pernah sependapat dengannya untuk kembali ke bumi, ia piker Nibiru sudah cukup, tak perlu membuat manusia itu kehilangan kebebasan.
“Baiklah Goo, Tinggalkan aku sendiri.” Tch Enki mengibaskan tangannya seperti mengusir lalat.
“Baik, Tch Enki.”
Jendral Gootech menuju ke pintu. Ia memencet sebuah tombol. Pintu terbuka, ia lewat, dan pintu kembali tertutup.
Tch Enki menuju hologram peta bumi. Ia menyentuh tiap titik merah dengan ujung jari, seolah menghitung. Sudah 12 titik, berarti 12 tengkorak. Tinggal satu lagi dan ia akan kembali menguasai bumi. Para atlantea akan segera kembali.
Ia akan mengulang masa jaya Atlantis, benua yang kata manusia bumi sudah hilang.
“Dasar para budak bodoh. Bagaimana bisa mereka mereka-reka berbagai macam teori tentang punahnya Atlantis sedang aku selalu mengawasi mereka tiap waktu? Ketika Nibiru kembali, maka aku akan kembali. Dan kalian para manusia bodoh, kalian akan sadar bahwa kalian sebenarnya hanyalah budak dari kami, para Atlantea. Hahahaha”
Dia tertawa lebar, memandang ke monitor yang menayangkan salah satu siaran Televisi bumi yang menyajikan Opera Van Java.
“Para badut konyol!”
Bip! Bip! Tch Enki menoleh pada asal suara barusan. Ia tahu, sangat tahu dan hafal. Itu adalah bunyi alarm sinyal tengkorak Kristal. Ia memandang peta bumi dalam hologram itu. suara bip masih terdengar. Ia menghitung titik merah dalam peta itu, ada 13. Ia mengulang lagi, 13. Ia mneyentuh titik merah ke 13, mencoba memperjelas koordinatnya, 7.17S 112.45E. Surabaya, Indonesia.
Perfect! Tepat seperti yang dia perkirakan. Tengkorak ke 13 memang berada di Indonesia.
Bip! Bip! Cahaya merah itu berubah ungu dan berpijar. Ia tak menyangka akan secepat ini. Ia harus segera bertindak.
Reflex Tch Enki menekan salah satu tombol di kursinya. Terdengar suara gemerisik di monitor yang sama saat ia memanggil jenderal Goo. Tapi kali yang muncul wajah lain.
“Yaa, cepat datang ke KulUforoom.”
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
“Anti! Where are you baby?”
Lengang, tak ada jawaban. Biasanya juga begitu jika Kirani pulang. Tak ada suara. Ia akan segera makan dan sholat, lalu langsung menuju lantai atas, ke kamar bermain Kinanti. Dia akan selalu mendapati Kinanti menggambar ditunggui Nung. Nung kadang-kadang tertidur dan baru terbangun kalau Kirani sudah hamper setengah jam ikutan nimbrung di kamar itu. dan ia langsung buru-buru minta maaf.
Kirani hanya tersenyum dan menyuruhnya makan siang, karena ia pasti kelelahan menjaga Anti ketika ia bersekolah.
Tapi kali ini tak ada Nung. Ia pulang kampung kemarin sore. Jadi hari ini Kinanti sendirian di rumah.
Kirani langsung naik ke kamar biasanya. Tapi kosong, tak ada tanda-tanda keberadaan Anti. Kamar mandinya juga kosong. Kirani ke kamar tidur Kinanti, siapa tahu dia disana, tapi kosong juga.
Deg! Kirani tiba-tiba merasa sangat cemas.
Ia berlari ke kamar orang tuanya yang sudah tak dihuni 3 bulan ini. Kosong juga. Ia ke kamar Nung, kosong.
Dimana Anti?
“Anti! Anti!” ia berteriak. Suaranya memantul ke seluruh penjuru ruangan. Tak ada jawaban juga. Ia meneliti seluruh sudut rumah, bahkan tempat-tempat favorit Kinanti, tapi tak ada dia. Kinanti hilang!
“Ya Tuhan!” KIrani memukul kepalanya sendiri. “Baru sehari tanpa Nung dan aku sudah ceroboh begini.”
Kemarin sore saat Nung pulang, Kinanti menjerit minta ikut. Tapi tentu saja tidak boleh begitu. Ayah Nung meninggal, dia baru akan balik seminggu lagi. Nung sudah mengambil pembantu sementara untuk Kinanti, tapi mengingat Kirani baru saja selesai UAS, jadi tak akan ada kegiatan wajib disekolah selain classmeeting, selama semingguan Kirani bisa terus pulang pagi dan menjaga Kinanti.
“Anti, dimana kamu?” masih tak putus asa, sekali lagi disusurnya penjuru rumah. Tak ada yang terlewat, bahkan gudangpun dia longok. Tapi hasilnya nihil.
Kirani duduk di ruang makan. lelah kakinya berkeliling. Diteguknya habis segelas air dingin dari kulkas. Ia harus berpikir jernih soal Kinanti. ia telah membiasakan dirinya berpikir dengan tenang dan logis, sekaligus menahan emosi menghadapi kelakukan Kinanti, khususnya tiga bulan terakhir ketika ia harus menjadi single sister buat Kinanti, selama orang tua mereka menyelesaikan studi S3nya di Australia.
“Aku yakin telah mengunci pintu, jadi dia takkan keluar rumah. Tapi di rumah dia tak ada. Tidak mungkinlah dia menghilang bagai ditelan bumi begini.” Kirani memainkan anak kunci rumah di tangannya.
“Kemungkinan pertama, aku lupa mengunci, tapi itu tak mungkin. Aku sudah mengecek sampai tiga kali sebelum aku berangkat. Kemungkinan kedua, tante Riri kesini dan mengajak Anti keluar jalan-jalan. Oke, sebaiknya aku telpon dia dulu.” Kirani mengambil ponselnya, mencari nomor tante Riri, adik Mama satu-satunya yang memiliki duplikat kunci.
“Halo.” Langsung diangkat. Lagi ramai di seberang. Semoga tente sedang berbelanja dan Kinanti bersamanya. Tante Riri sudah lama menikah tapi belum dikarunia anak juga, jadi ia sangat menyayangi Kinanti seperti anaknya sendiri. Dan selera Kinanti biasanya cocok dengan selera Tante Riri, itulah kenapa Tante pesoleknya itu selalu mengajak Kinanti dan bukan Kirani jika berbelanja.
“Ya sayang.”
“Tante lagi belanja?”
“Belum sampai sayang, baru di jalan, ada kecelakaan. Tante sama teman-teman tante, saying sekali ga bisa mengajak Kinanti.”
“Oh, ya sudah tante, makasih, ati-ati.” Telpon ditutup.
Tidak, dia tidak bersama Tante Riri, lalu dimana?
Kirani menuang lagi air dingin dari botol. Sejuk merayapi kerongkongannya yang dilanda dehidrasi.
Kinanti diculik!
Tiba-tiba ide itu menusuk benaknya.
Kriiing!
Telepon.
Itu pasti si penculik meminta tebusan.
Pasti ia dengan mudah membawa Kinanti keluar tadi. Toh Kinanti mudah diatur kecuali dia sedang ngambek. Ia toh tak perduli dengan siapa ia bicara atau ikut, tepatnya ia tidak tahu.
Kring!
Angkat tidak?
Kirani maju mundur. Maju.
“Hallo…”
“Granny, aku depan pagar nih. Dari tadi pencet bel ga ada yang bukain. Panas nih.”
Gosh, Sapto! Bukan penculik . ketiwasan Kirani sudah berpikir macam-macam.
“Tapi belum sampai gosong kan Sap. Katanya tadi mau latihan basket dulu.”
“Ga jadi, sudah kangen berat sama Anti.”
“Padahal Antinya hilang.”
“Apa suaramu ga jelas…”
“Ga apa-apa. Sebentar aku keluar.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome Back to Neverland!!!

Haiaaaaaaaaaaaaaaa................ setelah sekian lama mati, bener-bener mati gaya! blog ini pertama kali Agustus 2010 dan sekarang adalah f...