Tiba-tiba Kirani merasa sebagai bagian dari adegan Terminator 2. Laki-laki itu berubah menjadi Arnold Swarzheneger dan ia adalah Linda Hamilton. Dia adalah T-800! Bedanya ia harus melindungi seorang Kinanti,bukan John Connor!
“Menyelamatkan diri dari apa? T-1000?” ejek Kirani.
“Jangan banyak bicara! Bawa pakaian seperlunya saja!” laki-laki itu berkali-kali melihat ke jam tangannya, seolah ia sedang berpacu dengan waktu.
Kirani seperti dihipnotis buru-buru berkemas. Tapi ia tahu laki-laki itu serius.
Ia meraup baju seadanya dan menjejalkannya dalam ransel. Ponsel, netbook, modem, charger… Bernard buat Kinanti.
“Sudah, aku siap.” Terakhir, ia memakai topi kesayangannya, no fear!
“Ayo jalan. Dia akan datang dalam beberapa menit lagi.” Sekali lagi laki-laki itu melihat arlojinya.
Kirani hampir menutup pintu kamar ketika ia teringat sesuatu. Peta kulit itu.
“Sebentar,” dengan cepat ia melesat kembali ke meja belajar, peta itu masih disana. Secepatnya ia jejalkan ke ranselnya.
Ia bergegas turun ke bawah. Kinanti masih duduk di kursi, meremas-remas tangan seperti biasanya. Laki-laki itu di dekat jendela, mengintip keluar.
“Mereka seratus meter dari sini. Dan kita tak mungkin lewat pintu depan.”
“Pintu belakang.” Seru Kirani.
“Cepat!”
“An…” Kirani tak meneruskan panggilannya, dia melihat laki-laki asing itu segera mendukung Kinanti. Kinanti tak berontak.
Kirani berlari, membimbing laki-laki itu menuju pintu belakang. Pintu itu sebenarnya jarang dibuka, karena tak ada yang menarik di belakang sana. terakhir yang kecuali sebidang tanah kapling milik tetangga yang di belakang sana yang tak diurusi pemiliknya, penuh ilalang.
Mereka tiba didepan pintu ketika terdengar bel pintu depan dipencet.
“Mereka datang.”
Kirani membuka pintu, krek! Macet. Pintu terkunci rapat. Ia mencoba lagi dengan panic. Tetap tidak berhasil.
“Kunci, Nung.” Kinanti menukas lirih.
“Gawat! Nung yang menyimpan kunci pintu ini.” Kirani memekik.
Tanpa menurunkan Kinanti, laki-laki itu mendobrak pintu. Sekali sentak langsung terbuka, dan Kirani menganga.
Terakhir ia tahu tanah itu penuh ilalang, tapi kini, dalam terang bulan tanggal 12, ia bisa melihat pantulan bulan di tetanahan, tepatnya rerawaan! pesing menyerang indra pembau. Ternyata tanah ini sudah berubah fungsi menjadi danau urin! Dan sekeliling menjulang tembok-tembok tetangga. Tak ada jalan keluar!
“Bagaimana ini.”
Sementara bel pintu terdengar beruntun. Dihadapannya. tina-
“Tidak bisa begini.”
Laki-laki itu menurunkan Kinanti lalu merogoh sesuatu dari saku celananya. Sebuah kunci. Dia tersenyum pada Kirani. Senyum aneh, dan Kirani penasaran.
Laki-laki itu duduk jongkok, dengan kunci itu ia membuat gambar lingkaran seukuran dasar gallon air mineral di lantai. Dan ketika ia selesai, lantai yang masuk dalam lingkaran itu berubah warna menjadi hijau dan menyilaukan. Dan Kirani bengong ketika laki-laki itu mengambil lingkaran hijau itu dari lantai dengan gampangnya, seolah mengambil tutup tandon air saja.
Laki-laki itu baru saja melubangi lantai? Gila! Bisa ngamuk Papa kalau tahu lantainya bolong!
Dan menganga di sana, sebuah lubang seperti sebuah sumur gelap tak berdasar.
. “Masuk!” ia memerintah.
“Hah?” Kirani mendelik.
“Cepat!”
“Tapi..”
Tak sabar laki-laki itu meraih pundak Kirani dan mendorongnya ke lubang.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
Dan Kirani seperti dihempaskan sekuat tenaga, ia menutup mata dan merasakan dirinya melayang bebas sesuai gravitasi bumi. ia membekap mulutnya sendiri dengan tangan kanan demi mencegah teriakannya keluar dari tenggorokannya, padahal urat lehernya sampai mengembang seperti Candil. Kulit kepalanya terasa dingin. Tangan kirinya memegangi topi yang sempat ia pegang sesaat sebelum ia jatuh bebas. Telinganya berdengung seperti halnya ketika berkendara turun gunung.
Ini gila!
Ia mencoba mengingat peristiwa beberapa menit lalu, ketika pintu ditutup.
Kirani hampir akan berteriak tetapi merasa mulutnya tiba-tiba dibekap dan tiba-tiba saja dia sudah duduk di sofa. Belum hilang keterkejutannya, tiba-tiba pula Kinanti sudah ada disampingnya. Begitu cepat gerakan-gerakan itu hingga ia berpikir laki-laki di hadapannya adalah superman!
Tapi dia bukan superman, dia tidak mengenakan baju biru ketat dengan celana merah ketat pula. Tak ada logo S! dia hanya seorang laki-laki biasa, setinggi Papa. Kulitnya putih (…. Atau albino?), hidungnya mancung seperti orang arab. Bola matanya biru muda. Kirani tak tahu dari rasa pa lelaki ini berasal, Australoid, Kaukasoid, atau Mongoloid?
“Maaf mengejutkan kalian, tapi aku harus membawa kalian pergi dari sini.”
Kirani membuka mulut, tapi terasa kaku, sangat. Ia merasa lumpuh. Tapi sepertinya laki-laki tu tahu apa yang hendak dikatakan Kirani.
“Aku Gootech dari Nibiru.”
Nibiru? Planet X?
“Aku akan menjelaskan nanti. Sekarang yang pasti kita harus pergi, kalian dalam bahaya. Tch Enki telah mengutus pasukannya untuk datang kesini mencari kalian. Dan jika dia berhasil menemukan kalian, maka bumi bisa dipastikan benar-benar hancur di tahun 2012”
“Hah?”
Kirani melongo. Bukannya itu cerita film?
Ia menampar pipinya, sakit. Ini nyata.
“Kenapa mencari..”
“Kalian memiliki sesuatu yang dia cari.”
“Apa?”
“Sudah kubilang, aku akan menjelaskannya nanti.”
“Tap….”
Kirani kehilangan suara, tiba-tiba ia sudah berada di ranjangnya. Ia bahkan tak tahu kenapa bisa begitu. Tapi laki-laki itu juga disana bersamanya. Ia berdiri di dekat almari dan membuka pintuya.
“Cepat berkemas.”
Tiba-tiba Kirani merasa tubuhnya mulai ringan. Seolah ia baru saja meloncat dari pesawat dan terjun di udara yang kehilangan gravitasi.
Ia melayang. Ia merasa udara sekitarnya tak lagi dingin menerpa. Ia terbang. Ketika ia menggerakkan tangannya, ia hanya menyentuh kosong disana sini. ia seperti berenang dalam kolam udara.
Ia merentangkan tangan, lalu dengan menggunakan gaya kupu-kupu ia mencoba meneliti sekelilingnya. Namun kosong, ia tak menyentuh apapun. Dengung di telinganya menghilang.
Perlahan ia membuka mata, tapi batal demi dilihatnya semua hanya hitam. Ia dalam kegelapan, sendirian. Ia menggerakkan tubuhnya, meraba sekeliling, kosong. Tak ada apapun, sesuarapun. Hening.
“Kau tidak apa-apa.” Kirani kaget mendengar suara tiba-tiba itu. laki-laki itu, seperti di gendang telinganya sendiri.
“Ya. Aku hanya merasa aku buta. Gelap sekali disini. “
Tak ada jawaban, bahkan Kirani hanya mendengar desah nafasnya sendiri.
“Hei..! kau dimana? Anti.” Tukasnya khawatir.
“Dia baik-baik saja.” Kirani melonjak lagi, suara itu dekat sekali dengan cuping telinganya.
“Dimana kita?”
“Lubang cacing.”
“Lubang cacing?”
“Ya. Lubang cacing adalah…..”
“Kita akan segera mendarat. Persiapkan kakimu.”
Bahkan belum selesai laki-laki itu bicara, Kirani sudah merasa kakinya menyentuh sesuatu. Ia segera menyeimbangkan tubuhnya agar tidak jatuh. Merasa ada kilatan di kelopak matanya, dia pikir sudah waktunya membuka mata.
Dan ia mendapati dirinya disebuah daerah luas tak berbatas. Lantai yang dipijaknya adalah dataran halus berwarna putih. Ia menoleh, laki-laki itu menurunkan Kinanti dari punggungnya.
“Dimana kita?”
“Nibiru?”
Sabtu, 26 Februari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Welcome Back to Neverland!!!
Haiaaaaaaaaaaaaaaa................ setelah sekian lama mati, bener-bener mati gaya! blog ini pertama kali Agustus 2010 dan sekarang adalah f...
-
Puan kau curi rasa pada harap gendam loka... lunglai raga pejam wajahmu menyinai, menyibak selimut hati rapat menjejat kala itu.... namu...
-
pas periksa.... dokternya belom dateng. ditanya kapan terakhir mens.. ukur berat badan, tensi dll.... so akhirnya dokternya datang.... u...
-
gada yang aneh.... setelah sebulan kemarin mengalami beberapa musibah yang membuatku sempat bertanya-tanya, what happen to me? kok jadi su...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar