Jendral Goo masuk ke ruangannya dan langsung menuju komputernya. Tangannya lincah menari di keyboard, beberapa detik kemudian muncul pemandangan yang berasal dari ruangan Tch Enki. Tanpa diketahui siapapun, ia telah memasang CCTV di ruangan sang ketua, dan ia bisa mengakses apapun yang terjadi disana di ruangannya.
Ia tahu, beberapa saat lalu Tch Enki memanggilnya hanya untuk memancing reaksinya soal bumi dan tengkorak Kristal. Ia tak mau gegabah, ia memang tak setuju dengan rencana kembali mengkoloni bumi. Tapi untuk membantah Tch, diperlukan argument khusus agar dia membatalkan rencana itu. Ia diajari untuk mematuhi pemimpin, sekaligus mengingatkan jika sang pemimpin salah.
Tch Enki sudah memberinya kesempatan untuk memperbaiki bumi, tapi ia gagal. Ia sudah mencoba beberapa ratus tahun lalu. Ia langsung menuju ke pusat atlantis, Sundaland. Ternyata semua sudah berubah, daratan yang dulu begitu luas kini terpecah dalam beberapa pulau-pulau. Ia memilih suatu pemerintahan di jaman itu untuk menjadikanya awal kebangkitan para Atlantea, Mojopahit. Luka lama, ia gagal membuktikan kalau dia bisa mempersatukan pulau-pulau itu dalam satu pemerintahan.
Ia tak pernah meminta kesempatan lagi. Manusia bumi terlalu egois untuk meninggikan diri sendiri. Ia hanya mengawasi tingkah laku Tch Enki yang masih ambisius kembali ke bumi tahun 2012 nanti.
Layar di hadapan jendral Goo menampilkan pemimpinnya itu sedang memeriksa titik-titik merah di hologramnya. Dan jelas tiba-tiba ia terkejut, dan menghitung kembali titik merahnya. Jenderal Goo menzoom gambar di monitornya, difokuskan pada titi terakhir yang disentuh Tch Enki. Dia terpana.
“Apa ini? Yang ke 13 telah muncul? Ini tidak mungkin! Aku sudah memastikan benda ini tidak akan keluar lagi untuk selamanya.”
Jenderal Goo mengecek koordinat lokasi titik merah. Surabaya.
Ia mengetik lagi dengan lincah. Gomap, ia melacak lebih mendetail di peta Surabaya. Ia menemukan sebuah rumah di kawasan kenjeran. Dari sana sinyal tengkorak ke 13 berasal.
“Kristal itu telah memilih pemiliknya.” Desisnya seolah takut ada yang mendengar. “Tapi aku harus lebih dulu daripada Yatech.”
Ia berkata begitu dengan tegas, setelah sesaat ia tahu di monitornya, Tch Enki sedang berbicara serius dengan Yatech.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
Mereka tidur bersebelahan. Dua wajah yang hampir sama, si kembar Kirani dan Kinanti. Kinanti memandang wajah disampingya. Wajah lugu dan polos. Ia baru saja tidur, dan Saptopun baru saja pulang. Ia tidak jadi berdongeng dan meminta Anti membuat ilustrasi dongeng seperti biasanya. Dan entah, habis maghrib tadi Papa menelepon. Mungkin dia mendapat firasat tentang keadaan putrid-putrinya sehingga menelepon lebih awal. Kirani bersyukur ketika ia bisa mengatakan, Anti baik-baik saja.
Mereka berdua, Kirani dan Sapto bekerja sama membujuk Kinanti agar mau makan. Kinanti rewel, ia menutup mulut rapat-rapat setiap kali Kirani menyuapkan sereal kesukaannya. Bahkan ia menghentak-hentakkan kaki. Kirani ingat, Kinanti suka nasi goreng telur, jadi ia ke dapur membuatkan, tapi Kinanti menolak mentah-mentah. Bahkan, ia merenggut nampan berisi nasi goreng itu dan dilemparkannya ke udara. Sontak seluruh bulir-bulir nasi tumpah ke lantai, piringnya pecah berserak.
Sapto pun ikut turun ke dapur, ia membuatkan omelet bayam. Sambil bercerita tentang popeye dan kekuatan supernya dari sayuran itu, Sapto berhasil membuat Kinanti menyantap hasil masakannya. Kinanti tidak marah, ia sudah biasa menghadapi hal seperti ini setiap hari. Kinanti yang rewel dan susah diatur. Kinanti yang membingungkan karena tak bisa ditebak maunya. Kinanti yang hidup dalam dunianya sendiri.
Sekarang dia sudah tidur, lelap. Pasti lelah karena setelah selesai makan tadi Sapto mengajaknya bermain sebagai Popeye dan Kirani duduk mengawasi tak jauh dari mereka, sambil diam-diam mengusap air matanya yang tiba-tiba menitik.
Kinanti terlihat menyukai Sapto. Meski sesekali ia terdiam beberapa saat, dan memandang Sapto dengan wajah aneh yang membuat Sapto tersenyum perih.
Kirani mengelus pipi kakaknya. Ia tujuh belas tahun, Kinanti juga. Tapi faktanya, Kinanti masih tujuh tahun, dan selamanya akan selalu tujuh tahun. Kinanti bangkit, baru saja dia ingat kalau hari ini ia belum membuka facebook sama sekali. Buru-buru ia nyalakan netbooknya dan membelakangi Kinanti yang sudah tidur. Kirani meletakkan boneka Bernard Bear disampingnya.
“Rani main-main terus.”
Lho? Anti belum tidur ternyata.
Kirani menoleh, Kinanti sudah duduk dengan posisi yoga. Bernard dalam pelukannya.
“Anti tadi sudah tidur, jadi Rani tinggal.”
“Tinggal seperti kakek Jamal?”
Kakek Jamal?
“Berbaring. Orang-orang mengaji Yasin.”
“Meninggal…”
“Tinggal.”
Ohhh, Kirani baru paham, kakek Jamal meninggal. Ia mengerutkan kening, siapa sih kakek Jamal? Ah, Anti memang memiliki teman khayalan yang aneh-aneh. Autis, salah satu kata yang tercetak tebal di benak Kirani sehingga ia harus memahami Kinanti sebagai sosok bocah tujuh tahun yang terkurung dalam tubuh 17 tahun.
“Anti bobo saja. Rani sibuk. “
“Sapto.”
“Sapto pulang karena Anti tidur. Sapto mengerjakan PR.”
“Sapto.”
Kirani menghela nafas. Pertanda buruk, Kinanti mengulang-ulang kata. Bisa jadi ini awal kemarahannya.
“Sapto pulang. Dia dicari mamanya”
“Sapto.” Kinanti membuang Bernard. Di tangannya ada sesuatu, seperti sebuah lembaran kain kumal. Ia meremas-remasnya dengan kesal. “Sapto tinggalkan Anti.”
Kinanti masih dalam posisi duduk yoganya. Matanya menatap ke dinding, kosong.
“Apa itu Anti?” ia mendekati Kinanti dan mencoba mencari tahu benda dalam remasan tangan Kinanti. Itu sebuah lembaran kulit. Ya, kulit.
“Kakek Jamal tinggalkan Anti.”
Kinanti mengambil sekumpulan kartu bergambar berukuran 4x4 yang disatukan dengan gantungan kunci berbentuk globe dari sakunya. Ia meletakkan kulitnya di ranjang dan membolak-balik kartunya. Kirani tahu, Ia sedang ingin menyampaikan sesuatu pada Kirani.
Itulah jendela menuju dunia Kinanti, agar dia bisa mengatakan sesuatu tanpa banyak bicara, ia bisa menunjukkan salah satu kartu gambarnya sebagai kata kunci. Sebenarnya ia terlalu pandai berbahasa, tapi terlalu sulit juga mengungkapkannya.
Ia menunjukkan kartu bergambar seorang laki-laki tua berkaca mata.
“Kakek Jamal.”
Tapi Kirani lebih tertarik pada kulit itu yang sekarang diperhatikannya baik-baik. Sepertinya sudah sangat lawas, tapi jelas ada semacam gambar disana dan guratan aneh, semacam tulisan kuno. Ya… itu adalah tulisan bahasa jawa!
Jangan-jangan ini peta! Kulit ini asli kumal seolah berasal dari jaman kuno. Tepi-tepinya pun sudah rusak dimakan usia, dan bau! Pasti! Pasti ada sesuatu. Jangan-jangan peta harta karun!
Deg!
Kirani menoleh pada Kinanti yang memandangi gambar lelaki tuanya. Ia masih mengulang-ulang nama Jamal seperti mantra saja.
Apakah ini peta harta karun peninggalan kakek Jamal?
Ia beranjak ke meja belajar dan menggelar kulit itu disana. Memang itu sebuah peta. Ada tanda segitiga, kotak dan symbol-simbol aneh dalam lembar kulit yang hamper berbentuk jajaran genjang dengan ukuran 10x15 cm itu. huruf jawanya tertulis rapi seperti hasil ketikan. Kinanti jadi ingat ia sangat benci pelajaran bahasa daerah karena terlalu sulitnya mengingat ke20 aksara jawa. Ia hanya ingat Ra…. Seperti huruf N, titik.
“Ini adalah petunjuk menuju harta karun itu, aku yakin!”
“Kakek Jamal.” Kata Kinanti
“Tapi aku tidak bisa membacanya. Di Google translatepun tak da fasilitas menterjemahkannya.”
“Kakek Jamal.” Tukas Kinanti
“Anti, siapa kakek Jamal?” Kirani kembali pada Kinanti. yang ditanya tidak merespon, hanya mengulang nama. Buntu. Tidak, tidak buntu. Kata kuncinya adalah JAMAL. Tapi siapa Jamal? Dimana dia sekarang? Dari mana Kinanti mengenalnya? Benak Kirani penuh tanda tanya.
Ting tong!
Bel pintu.
“Sebentar Anti, ada tamu.”
“Kakek Jamal.” Sepertinya Kinanti tak mau ditinggal. Ia turun ranjang mengikuti langkah Kirani kebawah. Ruang tamu gelap, sengaja Kirani tak menyalakan lampu. Ia mengintip lewat lubang pintu, dan terlihatlah seraut wajah seorang laki-laki, seusia Om Faye, suami tante Riri.
Oh, ia lupa mengunci pagar kembali setelah Sapto pulang. Jadi sang tamu ini bisa langsung ke pintu. Sebentar, jangan-jangan dia orang jahat!
Kirani mundur, ia waspada. Ia menoleh sekeliling mencari sesuatu yang bisa dijadikan perlindungan sekiranya terjadi sesuatu yang membahayakan jika ia membuka pintu. Ia baru hendak mengambil tongkat golf di guci sudut ruang tamu ketika tiba-tiba seberkas cahaya muncul, memuat siluet seorang laki-laki.
Cahaya itu dari pintu yang terbuka lebar, membuka jalan bagi sinar lampu teras untuk masuk. Kirani terkesiap. Kinanti berdiri di depan pintu, tepat di hadapan tamu tak diundang itu.
Kirani telat, Kinanti telah mendahuluinya membuka pintu.
Kirai menahan nafas. Hening. Hanya detak jam dinding. Kinanti diam, pun laki-laki itu, mereka bertatapan beberapa detik sebelum Kinanti membuka mulutnya.
“Kakek Jamal pulang.”
Lalu gelap. Laki-laki itu menutup pintu dibelakangnya.
Sabtu, 26 Februari 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Welcome Back to Neverland!!!
Haiaaaaaaaaaaaaaaa................ setelah sekian lama mati, bener-bener mati gaya! blog ini pertama kali Agustus 2010 dan sekarang adalah f...
-
Puan kau curi rasa pada harap gendam loka... lunglai raga pejam wajahmu menyinai, menyibak selimut hati rapat menjejat kala itu.... namu...
-
pas periksa.... dokternya belom dateng. ditanya kapan terakhir mens.. ukur berat badan, tensi dll.... so akhirnya dokternya datang.... u...
-
gada yang aneh.... setelah sebulan kemarin mengalami beberapa musibah yang membuatku sempat bertanya-tanya, what happen to me? kok jadi su...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar